Tampilkan postingan dengan label kusus cewek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kusus cewek. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Juni 2013

Kevin Balot, Transgender from Philipine

Kevin Balot of Philippines reacts as she wins Miss International Queen 2012 beauty pageant held on November 2, 2012 in Pattaya, Thailand.

The first Runner-Up went to Jessika Simoes of Brazil, with Imanni da Silva of Angola, Panvilas Mongkol of Thailand, Michelle Montecarlo & Miriam Jimenez from the Philippines placing Second Runners-Up.

It is also dubbed as the Miss Universe for transvestites and transgenders, whose aim is to empower transgenders, promote GLBT rights and provide a venue for showcasing their talents.


Kevin Balot of Philippines reacts as she wins Miss International Queen 2012 beauty pageant held on November 2, 2012 in Pattaya, Thailand.
Balot bested 20 other contestants from 15 countries in the annual pageant for transvestites winning the 10,000 US Dollars cash prize and an expensive crown. Balot, a nursing graduate from Far Eastern University, will receive $10,000 (Bt310,000) and other prizes and gifts.


Kevin Balot of Philippines reacts as she wins Miss International Queen 2012 beauty pageant held on November 2, 2012 in Pattaya, Thailand.

Kevin Balot of Philippines reacts as she wins Miss International Queen 2012 beauty pageant held on November 2, 2012 in Pattaya, Thailand.
She gave an impressive performance during the question and answer segment in the final round, which helped clinch the crown. 21 contestants from 15 countries dazzled at the Miss International Queen 2012 pageant held in Thailand s seaside resort Pattaya on Friday, vying for the crown in the annual competition for transvestites.

Kevin Balot of Philippines reacts as she wins Miss International Queen 2012 beauty pageant held on November 2, 2012 in Pattaya, Thailand.

Kevin Balot of Philippines reacts as she wins Miss International Queen 2012 beauty pageant held on November 2, 2012 in Pattaya, Thailand.
The final contestants were selected from more than a hundred entries from nearly 30 countries, and one contestant said the competition offered transvestites and transgenders a chance to show off their potentials.

Balot said after the pageant, “I’m very proud to be the first here, and I hope my dad will accept me. Because in the family I’m the only boy, and my dad has big expectations of me. I made it. I won the International Queen Pageant, and I believe that my dad will accept me not only as his son but also as his daughter.”
Kevin Balot of Philippines reacts as she wins Miss International Queen 2012 beauty pageant held on November 2, 2012 in Pattaya, Thailand.

Kevin Balot of Philippines reacts as she wins Miss International Queen 2012 beauty pageant held on November 2, 2012 in Pattaya, Thailand.

Kevin Balot of Philippines reacts as she wins Miss International Queen 2012 beauty pageant held on November 2, 2012 in Pattaya



Para ulama fiqih mendasarkan ketetapan hukum tersebut pada dalil-dalil yaitu: (1) firman Allah Swt dalam surat Al-Hujurat ayat 13 yang menurut kitab Tafsir Ath-Thabari mengajarkan prinsip equality (keadilan) bagi segenap manusia di hadapan Allah dan hukum yang masing-masing telah ditentukan jenis kelaminnya dan ketentuan Allah ini tidak boleh diubah dan seseorang harus menjalani hidupnya sesuai kodratnya; (2) firman Allah Swt dalam surat an-Nisa’ ayat 119. Menurut kitab-kitab tafsir seperti Tafsir Ath-Thabari, Al-Shawi, Al-Khazin (I/405), Al-Baidhawi (II/117), Zubat al-Tafsir (hal.123) dan al-Qurthubi (III/1963) disebutkan beberapa perbuatan manusia yang diharamkan karena termasuk “mengubah ciptaan Tuhan” sebagaimana dimaksud ayat di atas yaitu seperti mengebiri manusia, homoseksual, lesbian, menyambung rambut dengan sopak, pangur dan sanggul, membuat tato, mengerok bulu alis dan takhannus (seorang pria berpakaian dan bertingkah laku seperti wanita layaknya waria dan sebaliknya); (3) Hadits Nabi saw.: “Allah mengutuk para tukang tato, yang meminta ditato, yang menghilangkan alis, dan orang-orang yang memotong (pangur) giginya, yang semuanya itu untuk kecantikan dengan mengubah ciptaan Allah.” (HR. Al-Bukhari); (4) Hadits Nabi saw.: “Allah mengutuk laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Ahmad). Oleh karena itu kasus ini sebenarnya berakar dari kondisi kesehatan mental yang penanganannya bukan dengan merubah ciptaan Allah melainkan melalui pendekatan spiritual dan kejiwaan (spiritual and psychological therapy).

Life is a choice, but when we were born, God has destined us as it should ... If we change our lives that have been revealed by God, then it is not God's will but it is unfortunate in life given from God to us. disaster not only suffering, but success in a way that also includes disaster misguided.

Kamis, 30 Mei 2013

Really Inspire Ad

This is one of my favorite ads and very inspiring. For all woman in the world... For all woman who read my blog :)


I feel fat because I have a height 158 cm and weight 60 kg,hehe... And I have big forehead and prominent cheekbones. And I feel my eyes not beauty without makeup. But... Stop with all the thing that... Maybe I just realized what we think is bad is not necessarily bad for others. And from now, we should use the time to be more appreciate what is on ourselves than on always see what is missing from ourselves, because You are more beautiful than you think!

Selasa, 23 April 2013

Mengapa Harus Kartini?

Ada yang menarik pada Jurnal Islamia (INSISTS-Republika) edisi 9 April 2009 lalu. Dari empat halaman jurnal berbentuk koran yang membahas tema utama tentang Kesetaraan Gender, ada tulisan sejarawan Persis Tiar Anwar Bahtiar tentang Kartini. Judulnya: Mengapa Harus Kartini?
Sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia ini mempertanyakan: Mengapa Harus Kartini? Mengapa setiap 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?
Menyongsong tanggal 21 April 2009 kali ini, sangatlah relevan untuk membaca dan merenungkan artikel yang ditulis oleh Tiar Anwar Bahtiar tersebut. Tentu saja, pertanyaan bernada gugatan seperti itu bukan pertama kali dilontarkan sejarawan. Pada tahun 1970-an, di saat kuat-kuatnya pemerintahan Orde Baru, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik ‘pengkultusan’ R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia.
Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita. Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut, tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University.
Harsja juga menggugat dengan halus, mengapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh
Sultanah Safiatuddin dari Kesultanan Aceh
dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan.
Datu ( Ratu ) Siti Aisyah We Tenriolle
Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut.
Padahal, papar Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengatetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf.
Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita.
Tokoh wanita kedua yang disebut Harsja Bachriar adalah Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita.
Penokohan Kartini Pilihan Belanda
Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.
Harsja menulis tentang kisah ini: Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.
Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan penganjur Haluan Etika C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.
Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).
Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang diketuai C.Th. van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih memperkenalkan nama Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang di Belanda.
Harsja Bachtriar kemudian mencatat : Orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakan-tindakan mereka.
Karena itulah, simpul guru besar UI tersebut : Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut.
Harsja mengimbau agar informasi tentang wanita-wanita Indonesia yang hebat-hebat dibuka seluas-luasnya, sehingga menjadi pengetahuan suri tauladan banyak orang. Ia secara halus berusaha meruntuhkan mitos Kartini. Dan, bilamana ternyata bahwa dalam berbagai hal wanita-wanita ini lebih mulia, lebih berjasa daripada R.A. Kartini, kita harus berbangga bahwa wanita-wanita kita lebih hebat daripada dikira sebelumnya, tanpa memperkecil penghargaan kita pada RA Kartini.
Dalam artikelnya di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika, 9/4/2009), Tiar Anwar Bahtiar juga menyebut sejumlah sosok wanita yang sangat layak dimunculkan, seperti Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.
Dewi Sartika dan Rohana Kudus

Dewi Sartika
Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.
Rohana Kudus dari Padang
Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).
Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda.
Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita. Di Aceh, kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati.
Laksamana Malahayati
Mengapa Kartini, bukannya Rohana Kudus atau Cut Nyak Dien, dll?
Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda.
Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini. Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya.
Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan, begitu kata Rohana Kudus.
Snouck Hurgronje

Snouck Hurgronje
Snouck Hurgronje Saat Menyamar Menjadi Muslim dengan nama Abdul Ghaffar

Seperti diungkapkan oleh Prof. Harsja W. Bachtiar dan Tiar Anwar Bahtiar, penokohan Kartini tidak terlepas dari peran Belanda. Harsja W. Bachtiar bahkan menyinggung nama Snouck Hurgronje dalam rangkaian penokohan Kartini oleh Abendanon. Padahal, Snouck adalah seorang orientalis Belanda yang memiliki kebijakan sistematis untuk meminggirkan Islam dari bumi Nusantara. Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib al-Attas sudah lama mengingatkan adanya upaya yang sistematis dari orientalis Belanda untuk memperkecil peran Islam dalam sejarah Kepulauan Nusantara.
Dalam bukunya, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu ((Bandung: Mizan, 1990, cet. Ke-4), Prof. Naquib al-Attas menulis tentang masalah ini:

Kecenderungan ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Kepulauan ini, sudah nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini.

Apa hubungan Kartini dengan Snouck Hurgronje? Dalam sejumlah suratnya kepada Ny. Abendanon, Kartini memang beberapa kali menyebut nama Snouck. Tampaknya, Kartini memandang orientalis-kolonialis Balanda itu sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tertanggal 18 Februari 1902, Kartini menulis:
Salam, Bidadariku yang manis dan baik!… Masih ada lagi suatu permintaan penting yang hendak saya ajukan kepada Nyonya. Apabila Nyonya bertemu dengan teman Nyonya Dr. Snouck Hurgronje, sudikah Nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut: Apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat?
Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya. (Lihat, buku Kartini: Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, (penerjemah: Sulastin Sutrisno), (Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000), hal. 234-235).
Melalui bukunya, Snouck Hurgronje en Islam (Diindonesiakan oleh Girimukti Pusaka, dengan judul Snouck Hurgronje dan Islam, tahun 1989), P.SJ. Van Koningsveld memaparkan sosok dan kiprah Snouck Hurgronje dalam upaya membantu penjajah Belanda untuk menaklukkan Islam.
Mengikuti jejak orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, yang menjadi murid para Syaikh al-Azhar Kairo, Snouck sampai merasa perlu untuk menyatakan diri sebagai seorang muslim (1885) dan mengganti nama menjadi Abdul Ghaffar. Dengan itu dia bisa diterima menjadi murid para ulama Mekkah. Posisi dan pengalaman ini nantinya memudahkan langkah Snouck dalam menembus daerah-daerah Muslim di berbagai wilayah di Indonesia.
Menurut Van Koningsveld, pemerintah kolonial mengerti benar sepak terjang Snouck dalam penyamarannya sebagai Muslim. Snouck dianggap oleh banyak kaum Muslim di Nusantara ini sebagai ulama. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai Mufti Hindia Belanda. Juga ada yang memanggilnya Syaikhul Islam Jawa.
Padahal, Snouck sendiri menulis tentang Islam: Sesungguhnya agama ini meskipun cocok untuk membiasakan ketertiban kepada orang-orang biadab, tetapi tidak dapat berdamai dengan peradaban modern, kecuali dengan suatu perubahan radikal, namun tidak sesuatu pun memberi kita hak untuk mengharapkannya. (hal. 116).
Snouck Hurgronje (lahir: 1857) adalah adviseur pada Kantoor voor Inlandsche zaken pada periode 1899-1906. Kantor inilah yang bertugas memberikan nasehat kepada pemerintah kolonial dalam masalah pribumi. Dalam bukunya, Politik Islam Hindia Belanda, (Jakarta: LP3ES, 1985), Dr. Aqib Suminto mengupas panjang lebar pemikiran dan nasehat-nasehat Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda.
Salah satu strateginya, adalah melakukan pembaratan kaum elite pribumi melalui dunia pendidikan, sehingga mereka jauh dari Islam. Menurut Snouck, lapisan pribumi yang berkebudayaan lebih tinggi relatif jauh dari pengaruh Islam. Sedangkan pengaruh Barat yang mereka miliki akan mempermudah mempertemukannya dengan pemerintahan Eropa.
Snouck optimis, rakyat banyak akan mengikuti jejak pemimpin tradisional mereka. Menurutnya, Islam Indonesia akan mengalami kekalahan akhir melalui asosiasi pemeluk agama ini ke dalam kebudayaan Belanda. Dalam perlombaan bersaing melawan Islam bisa dipastikan bahwa asosiasi kebudayaan yang ditopang oleh pendidikan Barat akan keluar sebagai pemenangnya. Apalagi, jika didukung oleh kristenisasi dan pemanfaatan adat. (hal. 43).
Aqib Suminto mengupas beberapa strategi Snouck Hurgronje dalam menaklukkan Islam di Indonesia: Terhadap daerah yang Islamnya kuat semacam Aceh misalnya, Snouck Hurgronje tidak merestui dilancarkan kristenisasi. Untuk menghadapi Islam ia cenderung memilih jalan halus, yaitu dengan menyalurkan semangat mereka kearah yang menjauhi agamanya (Islam) melalui asosiasi kebudayaan. (hal. 24).
Itulah strategi dan taktik penjajah untuk menaklukkan Islam. Kita melihat, strategi dan taktik itu pula yang sekarang masih banyak digunakan untuk menaklukkan Islam. Bahkan, jika kita cermati, strategi itu kini semakin canggih dilakukan. Kader-kader Snouck dari kalangan pribumi Muslim sudah berjubel.
Biasanya, berawal dari perasaan minder sebagai Muslim dan silau dengan peradaban Barat, banyak anak didik Snouck langsung atau pun tidak yang sibuk menyeret Islam ke bawah orbit peradaban Barat. Tentu, sangat ironis, jika ada yang tidak sadar, bahwa yang mereka lakukan adalah merusak Islam, dan pada saat yang sama tetap merasa telah berbuat kebaikan

Sumber :
 http://gunturtalks.blogspot.com/2011/04/mitos-kartini-dan-rekayasa-sejarah.html yang bersumber dari: http://supermilan.wordpress.com/2010/04/21/mitos-kartini-dan-rekayasa-sejarah/. Posted on 21 April 2010 by Widya Wicaksana

Kamis, 17 Mei 2012

4 Perempuan Indonesia Paling Berpengaruh se-Asia Versi Forbes


Empat nama perempuan Indonesia ditemukan di antara daftar 50 perempuan pebisnis paling berpengaruh se-Asia yang dikeluarkan oleh majalah Forbes.
Forbes yang tiap tahun membuat daftar semacam itu untuk mengapresiasi pencapaian yang dilakukan para perempuan Asia yang berprestasi dalam bidang industri memasukkan 4 perempuan Indonesia antara lain Siti Hartati Murdaya yang memiliki Central Cipta Murdaya, Shinta Widjaja Kamdani dari Sintesa Group, Wendy Yap pengelola PT Nippon Indosari Corpindo, dan Karen Agustiawan yang menjabat sebagai Direktur Utama Pertamina.
Berikut adalah profil singkat ke-4 perempuan Indonesia yang berprestasi tersebut:

1. Siti Hartati Murdaya (65 tahun)

siti hartati murdaya 4 Perempuan Indonesia Paling Berpengaruh se Asia Versi Forbes
Siti Hartati Murdaya merupakan pemilik Central Cipta Murdaya bersama sang suami Murdaya Widyamarta Poo. Perusahaan yang ia kelola bergerak dalam bermacam-macam bidang mulai dari real estate, perkebunan, teknologi informasi hingga barang kebutuhan sehari-hari.
Nilai bisnis real estate yang ia jalankan mencapai Rp.9 triliun melingkupi gedung perkantoran, mall, hotel, serta JIEC (Jakarta International Expo Center) yang kerap dijadikan lokasi acara yang bersifat nasional bahkan internasional. Saat ini, Siti Murdaya juga tercatat sebagai anggota Komite Ekonomi Nasional.

2. Karen Agustiawan (53 tahun)

20110104112046karen agustiawan 4 Perempuan Indonesia Paling Berpengaruh se Asia Versi Forbes
Karen Agustiawan merupakan perempuan pertama yang memegang jabatan sebagai Direktur Utama Pertamina. Karirnya di dunia bisnis migas diawali tahun 1984 ketika ia mengabdi pada Mobil Oil and Halliburton Indonesia.
Kemudian karirnya melesat bersama Pertamina yang akhirnya menghantarkannya pada posisi staf ahli untuk direktur hulu pada 2006 sebelum ditunjuk menjadi direktur utama pada 2009.

3. Sinta Widjaja Kamdani (45 tahun)

shinta widjaja kamdani 4 Perempuan Indonesia Paling Berpengaruh se Asia Versi Forbes
Shinta Widjaja Kamdani merupakan perempuan termuda Indonesia yang masuk ke daftar yang dirilis Forbes. Shinta merupakan putri pengusaha kaya raya Johny Widjaja.
Shinta merupakan wakil negara Indonesia bersama 12 WNI lainnya yang mendapat kesempatan untuk bertatap muka dengan Presiden Obama guna berbincang-bincang soal pengembangan industri di negara-negara berkembang seperti Indonesia di Washington.
Perusahaan Sintesa Group yang ia pimpin memiliki setidaknya 17 perusahaan yang bergerak di banyak bidang mulai dari real estate hingga barang konsumsi sehari-hari.

4. Wendy Yap (55 tahun)

show image NpAdvSinglePhoto.php  4 Perempuan Indonesia Paling Berpengaruh se Asia Versi Forbes
Wendy Yap lahir di dalam keluarga yang bisa dibilang amat makmur. Ayahnya adalah Piet Yap yang mendirikan Bogasari Flour Mills. Wendy sendiri juga sukses dalam berbisnis setelah perusahaan yang ia dirikan sekitar 16 tahun lalu, Nippon Indosari Corpindo, mampu berdiri tegak hingga sekarang.
Saat ini ia tercatat sebagai Presiden Direktur sekaligus CEO PT Nippon Indosari Corpindo dengan produk paling terkenal Sari Roti.

Perempuan Indonesia Jadi Deputy Sheriff di Amerika Serikat

Nama lengkapnya Maria Esther Indrasari. Lahir di Bandung pada 24 Mei dan besar di kota itu hingga kuliah di jurusan Desain Interior Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung. Tahun ketiga, Marie, panggilan akrabnya, pindah ke Greensboro North Carolina karena menikah dengan Dan Llyod, seorang pakar IT yang  bekerja di perusahaan garmen terkenal Amerika. Konon keduanya bertemu di hutan. Lloyd sebagai aktivis Greenpeace dan Maria di World Wild Foundation (WWF).
Setelah menikah, Marie melanjutkan (bukan mengulang) kuliah Desain Interior di University of North Carolina at Greensboro (UNCG), sebuah kampus negeri di negara bagian North Carolina. Sambil kuliah, Marie bekerja paruh waktu sebagai desainer di Zimmerman Furniture lalu di pabrik karpet Lexington North Carolina. Setelah lulus, sempat bekerja jadi Desainer Interior di sebuah konsultan. Karena belum mendapat lisensi sebagai Desainer Interior, dalam proyek-proyek yang diekspos majalah, namanya tidak pernah dicantumkan sebagai tim desainer interior. Tidak betah, dia kemudian mendirikan perusahaan sendiri MLDG LLC. Selain seorang Desainer Interior, dia juga seorang pelukis yang karyanya sering dia pamerkan dari galeri ke galeri terutama di Morikami Museum and Japanese Garden. Kabar kemudian, dia dan suaminya pindah ke selatan, Palm Beach, Florida.
Jadi Polisi
Lama tidak terdengar kabar. Hingga suatu hari dia mengirim e-mail dilengkapi foto-foto dirinya dan beberapa bule berpakaian hitam. Ternyata foto dia sedang dilantik jadi polisi di Palm Beach. Ha? Jadi polisi Amrik? Iya, katanya. Via e-mail dia lalu bercerita bahwa kesulitan ekonomi yang dialami Amerika berimbas pada sepinya proyek desain interiornya. Dia kemudian mencoba cari pekerjaan ke pemerintah.
Salah satu cita-citanya jadi polisi. Jadi dia pernah melamar ke FBI, tapi ditolak dengan alasan karena pendidikannya terlalu spesifik.
Menurut Marie, polisi di Amerika ada tiga macam. Polisi Federal yang dikenal dengan sebutan FBI (Federal Bureau of Investigation), polisi negara bagian (state police, contohnya polisi patroli jalan raya di film CHIPS (California Highway Patrol) dulu, polisi kota seperti yang sering jadi serial fil tv seperti Los Angeles Police Department (LAPD) atau New York Police Department (NYPD) dan polisi wilayah semacam kabupaten dan kecamatan (county) yang dikenal dengan sebutan sherrif dan anggotanya disebut deputy sherrif. Polisi negara bagian, polisi kota dan polisi county negara bagian Florida berada di bawah Florida Department of Law Enforcement.
1328579315286464454
Maria pun lalu mencoba daftar ke Akademi Kepolisian (Palm Beach State College- Police Academy).Sebelas kali Marie ditolak masuk Akademi dengan alasan antara lain bertubuh kecil atau pendek dan ras Asia. Stereotip perempuan Asia dimata bule Amerika itu lemah gemulai. Setelah  gagal tes 11 (sebelas) kali , tes yang ke 12 kalinya dia diterima di Akademi Kepolisian itu dan mengikuti latihan selama enam bulan. Gara-gara ekonomi sedang sulit, yang biasanya masuk akademi dibayarin pemerintah, sekarang sebagian kadet harus bayar sendiri. Di Akademi Kepolisian Maria kelas 137 (angkatan ke 137). Di kelas, ada 28 orang dan perempuannya hanya tiga orang. Meskipun bertubuh kecil, Maria punya nyali gede, jadi, selama pendidikan dia sering hampir terlibat perkelahian dengan kadet lain yang bikin ulah. Maria yang bertubuh kecil katanya memberi inspirasi ke yang lain. Banyak yang bertubuh kecil atau pendek juga kemudian melamar jadi polisi.
Ketika lulus, Maria diminta masuk PBSO (Palm Beach Sherrif Office). Kantor sherrif itu menerima Marie karena kebetulan PBSO membutuhkan polisi dari ras Asia. Waktu tes, dia kandidat nomor satu karena nilai tes dia paling tinggi dan satu-satunya perempuan Asia. lalu masuk dinas polisi FTO (field training office) bekerja sebagai staff crash investigator alias peneliti kecelakaan di kantor Sherrif Lake Worth Florida County.  Dilihat berdasarkan unit kerja, Marie masuk unit traffic. Jadi salah satu kegiatannya adalah patroli di wilayah Lake Worth. Untuk menambah kemampuannya sebagai deputy sherrif, Maria sekarang kuliah lagi bidang psikologi forensik di Florida Atlantic University di kota tempat tinggalnya Boca Raton Florida .(MJ)
1328579252316169677
latihan nembak