Senin, 13 Desember 2010

Sudah Muak, Tapi Susah Putus Cinta

KETIKA kita mencintai dan menjalin hubungan dengan seseorang, tentu selain masa-masa romantis akan ditemui masa-masa adjustment, friksi, dan ketidakcocokan. Rumitnya, Anda tak bisa benar-benar memutuskan hubungan dan move on darinya.

Kondisi putus-nyambung memberikan kerumitan tersendiri dalam hubungan cinta. Setelah balik lagi, Anda menemui situasi yang sama, permasalahan yang sama karena karakter seseorang memang sulit diubah. Sebaliknya ketika putus lagi, Anda belum menemukan gantinya, rasa kesepian muncul, tapi masih ada feeling. Sungguh rumit!

Memang, sulit bagi pasangan kekasih yang putus-nyambung untuk siap saling melepaskan.

“Orang enggak suka dipaksa move on karena ini bukan proses yang mudah. Manusia bukan mesin yang punya tombol on-off. Kalau lagi cinta, tekan on, kalau lagi muak, tekan tombol off,” kata Alexandra Dewi dalam bedah buku barunya, It’s Complicated; Teman Sharing Ketika Hubungan Menjadi Rumit di Kinokuniya Books, Plasa Senayan, Jakarta, Kamis (2/12/2010).

Alasan putus-nyambung

Sebenarnya, pasangan yang putus-nyambung ini sudah sadar bahwa mereka tidak cocok. Toh mereka sudah berulang kali putus karena ketidakcocokan atau masalah yang sama. Tapi sekali lagi, move on dari hubungan adalah proses yang berat.

Moving on is not an easy process. Sebab, lebih gampang kembali ke comfort zone or familiar kind of pain daripada mencoba jenis obat baru. Apalagi, obat ini rasanya sangat enggak enak. Dan, proses terapinya lama walau sebenarnya itulah obat atau solusinya,” tulis Dewi dalam bukunya.

Dr Ashwin Kandouw, psikiater dari Rumah Sakit Pondok Indah memaparkan dua alasan menarik mengapa pasangan kekasih kerap putus-nyambung, tak mau beranjak dari hubungan yang membosankan.

“Pertama, manusia pada umumnya senang berada di zona nyaman. Kalau seseorang ada di kondisi sulit dan berpikir untuk move on, pasti karena dia sedang tidak nyaman di zonanya. Tapi untuk bergerak, dia takut masuk ke zona baru yang asing,” paparnya pada kesempatan yang sama.

Kedua, lanjut Dr Ashwin, berkaitan dengan eksistensi diri. Seseorang memandang dirinya bermakna karena dicintai kekasih. Nah, saat kisah cintanya berjalan tidak baik, dia merasa eksistensinya hilang.

“Saat hubungan cintanya tidak berjalan dengan baik, dia akan merasa eksistensinya hilang dan berpikir, siapa yang akan mencintai saya. Dia menganggap dirinya berarti karena kehadiran orang lain,” imbuh psikiater yang juga berpraktek di Sanatorium Dharmawangsa, Jakarta Selatan ini.

Nyaman dengan diri sendiri

Dr Ashwin menegaskan, penting untuk seseorang nyaman dengan dirinya sendiri sebelum membuat komitmen hubungan dengan orang lain.

Kesalahan yang banyak dilakukan mereka yang membuat komitmen hubungan adalah melupakan hubungan dengan diri sendiri. Hubungan dengan diri adalah pondasi sebelum hubungan lainnya dibangun. Pasangan akan mencintai hanya sebatas pada apa yang kita cintai pada diri sendiri.

“Yang penting, sebelum masuk hubungan, Anda harus nyaman dengan eksistensi diri. Bukan karena saya dicintai A, atau menjadi pacarnya A, saya jadi lebih percaya diri. Setelah Anda nyaman dengan diri, barulah masuk ke hubungan dengan lebih secure,“ tukas Dr Ashwin.

“Anda berarti karena siapa diri Anda, bukan karena orang lain. Memang lebih baik kalau kekasih, tapi pastikan saat putus hubungan, Anda tidak mengatakan, i am nothing. Bukan begitu,“ ujarnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar