Minggu, 10 April 2011

PERENCANAAN AUDIT DAN PROSEDUR ANALISIS

5.1 PERENCANAAN AUDIT
Perencanaaan Audit meliputi pengembangan strategi pelaksanaan secara menyeluruh dan Lingkup Audit yang diharapkan.
Dalam perencanaan Audit, Auditor harus mempertimbangkan hal – hal sebagai berikut:
Ø  Masalah yang berkaitan dengan bisnis entitas dan industri yang menjadi tempat usaha entitas tersebut.
Ø  Kebijakan dan prosedur akuntansi entitas tersebut.
Ø  Metode yang digunakan oleh entitas tersebut dalam mengolah informasi akuntansi yang signifikan, termasuk penggunaan organisasi jasa dari luar untuk mengolah informasi akuntansi  pokok perusahaan
Ø  Tingkat risiko pengendalian yang direncanakan.
Ø  Pertimbangan awal tentang tingkat materialitas untuk tujuan audit
Ø  Pos laporan keuangan yang mungkin memerlukan peyesuaian
Ø  Kondisi yang mungkin memerlukan perluasan atau pengubahan pengujian audit, seperti risiko kekeliruan atau kecurangan material atau adanya transaksi antar pihak – pihak yang mempunyai hubungan istimewa
Ø  Sifat laporan Auditor yang diharapkan akan diserahkan ( sebagai contoh : laporan Auditor tentang laporan keuangan konsolidasian, laporan keuangan yang diserahkan ke Bapepam, laporan khusus untuk menggambarkan kepatuhan klien terhadap kontrak perjanjian )
Dalam perencanaan auditnya, auditor harus mempertimbangkan sifat, lingkup, dan pada saat pekerjaan harus dilaksanakan yaitu membuat suatu program audit secara tertulis (satu set program audit tertulis) untuk setiap audit. Program audit harus menggariskan dengan rinci prosedur audit yang menurut keyakinan auditor diperlukan untuk mencapai tujuan audit. Bentuk program audit dan tingkat kerinciannya sangat bervariasi sesuai dengan keadaan. Selama berlangsungnya audit, perubahan  kondisi dapat menyebabkan terjadinya perubahan prosedur audit yang telah direncanakan tersebut.
Auditor harus mempertimbangkan apakah suatu keahlian khusus diperlukan, seperti dalam mempertimbangkan dampak pengolahan komputer terhadap auditnya, untuk memahami pengendalian intern, kebijakan dan prosedur, atau untuk merancang dan melaksakan prosedur audit. Jika keahlian khusus diperlukan, auditor harus mencari asisten atau tenaga ahli yang memiliki keahlian tersebut, yang mungkin berasal dari staf kantor akuntannya atau ahli dari luar. Jika penggunaan jasa tenaga ahli tersebut direncanakan, auditor harus memiliki pengetahuan memadai yang bersangkutan dengan computer untuk mengkomunikasikan tujuan pekerjaan ahli lain tersebut; untuk mengevaluasi apakah hasil prosedur yang telah ditentukan tersebut mencapai tujuan auditor; dan untuk mengevaluasi hasil prosedur audit yang diterapkan berkaitan  dengan sifat, saat, dan lingkup prosedur audit lain yang direncanakan.
Ada tiga alasan utama mengapa auditor harus merencanakan tugasnya dengan sebaik – baiknya, yakni sebagai berikut :
Ø  Untuk memperoleh bahan bukti kompeten yang cukup dalam situasi saat itu
Ø  Untuk membantu menekan biaya audit
Ø  Untuk menghindari salah pengertian dengan klien
Terdapat tujuh bagian utama dalam perencanaan audit, yakni sebagai berikut :
Ø  Perencanaan awal audit
Ø  Memperoleh informasi mengenai latar belakang
Ø  Memperoleh informasi mengenai kewajiban hukum klien
Ø  Melaksanakan prosedur analitis pendahuluan
Ø  Menentukan materialitas dan risiko
Ø  Memahami struktur pengendalian intern
Ø  Mengembangkan  rencana dan program audit secara menyeluruh





5.2 MEMPEROLEH INFORMASI MENGENAI LATAR BELAKANG
Informasi mengenai latar belakang didapat dengan berbagai cara, diantaranya adalah sbagai berikut:
·         Memahami Bidang Usaha dan Industri Klien
Untuk menginterpretasikan maksud dari informasi yang diperoleh selama audit secara memadai, penting bagi auditor untuk memahami industry klien. Ada tiga alasan mengapa diperlukan pemahaman yang baik atas industry klien, yakni sebagai berikut.
-          Banyak industry mempunyai aturan akuntansi yang khas yang harus dipahami auditor untuk mengevaluasi apakah laporan keuangan klien sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Misalnya, jika auditor mengaudit badan-badan pemerintah, auditor harus memahami aturan-aturan dalam akuntansi pemerintahan. Akan terdapat aturan akuntansi yang khas untuk perusahaan konstruksi, kereta api, organisasi nirlaba, lembaga keuangan, dan banyak organisasi lainnya.
-          Auditor sering dapat mengidentifikasikan risiko dalam industri yang akan mempengaruhi penetapan risiko audit yang dapat diterima, atau bahkanmengaudit perusahaan dalam industry tersebut dapat dibenarkan.
-          Terdapat risiko bawaan yang pada hakikatnya sama bagi seluruh klien dalam industry yang bersangkutan. Pemahaman risiko tersebut menolong auditor dalam mengidentifikasi risiko bawaan dari klien. Contohnya antara lain, risiko bawaan potensi keusangan persediaan dalam industry rumah mode, risiko bawaan kolektibilitas piutang usaha dalam industry pinjaman konsumen, dan risiko bawaan cadangan kerugian dalam asuransi kebakaran.
Pengetahuan mengenai industry klien dapat diperoleh dengan berbagai cara, diantaranya adalah diskusi dengan auditor sebelumnya, pertemuan dengan pegawai klien, pedoman audit industry, teks pelajaran, majalah industry, atau asosiasi industry.
·         Meninjau Pabrik dan Kantor
Peninjauan atas fasilitas klien bermanfaat untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai bidang usaha dan operasi klien karena akan diproleh kesempatan untuk menemui pegawai kunci dan mengamati operasi dari tangan pertama. Peninjau langsung atas fasilitas fisik akan membantu auditor dalam memahami pengamanan fisik atas aktiva dan dalam menginterpretasikan data akuntansi dengan cara memberikan kerangka acuan dalam visualisasi aktiva seperti persediaan dalam proses dan peralatan public.
·         Menelaah Kebijakan Perusahaan
Keputusan-keputusan dasar yang menyangkut kebijakan seperti kebijakan tentang pengendalian intern, pelepasan sebagian dari usaha, kebijakan kredit, pinjaman ke perusahaan afiliasi, dan kebijakan akuntansi untuk mencatat aktiva dan pengakuan pendapatan, harus selalu dievaluasi dengan teliti sebagai bagian dari audit untuk menetapkan apakah manajemen memperoleh wewenang dari dewan komisaris untuk membuat keputusan tertentu dan untuk meyakinkan bahwa keputusan manajemen telah tercermin dalam laporan keuangan.
·         Mengidentifikasi Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa
Hubungan istimewa didefinisikan sebagai perusahaan afiliasi, pemilik utama perusahaan klien, atau pihak lainnya yang berhubungan dengan klien, dimana salah satu pihak dapat mempengaruhi manajemen atau kebijakan operasi pihak lainnya. Contoh umum adalah transaksi penjualan atau pembelian antara perusahaan induk dan anak, pertukaran peralatan antara dua perusahaan yang dimiliki oleh orang yang sama, dan peminjaman kepada pegawai, serta adanya pengaruh kuat pelanggan utama terhadap manajemen klien.
·         Mengevaluasi Kebutuhan akan Spesialis dari Luar
Jika auditor mengahadapi situasi yang memerlukan pengetahuan khusus, mungkin perlu baginya untuk menghubungi seorang spesialis. Contohnya adalah penggunaan seorang spesialis berlian untuk menilai biaya penggantian berlian, atau seorang spesialis aktuaris untuk menetapkan kelayakan nilai yang tertulis dari cadangan kerugian asuransi, atau konsultasi dengan pengacara untuk membuat interpretasi hukum dari sebuah kontrak.

5.3 MEMPEROLEH INFORMASI MENGENAI KEWAJIBAN HUKUM KLIEN
Tiga dokumen hukum dan catatan yang berkaitan erat yang harus diperiksa pada awal penugasan Adalah (1) akta pendirian dan anggaran perusahaan, (2) risalah rapat direksi, komisaris, dan pemegang saham dan (3) kontrak. Beberapa informasi mengenai kontrak, harus diungkapkan dalam keuangan. Pengetahuan awal pengetahuan hokum dan catatan ini akan memungkinkan auditor untuk menginterprestasikan bahan bukti selama penugasan berlangsung dan menjamin bahwa pengungkapan yang pantas telah dilakukan dalam laporan keuangan.
a.      Memahami bidang usaha dan industri klien, diperlukan untuk mengetahui kekhasan aturan akuntansi,menidentifikasi risiko industri dan risiko bawaan.
1) pihak terkait : adalah pihak terkait, pemilik utama perusahaan klien atau pihak lain        yang berhubungan dngan klien, dimana salah satu pihak dapat mempengaruhi manajemen atau peraturan operasional lainnya.
2) corporate charter : diberikan oleh negara tempat perusahaan berada dab dokumen yang sah diperlukan untuk mengenali perusahaan sebagai entitas terpisah
 3) corporate minutes : catatan resmi dari pertemuan dewan direksi dan pemegang saham.
b.      Memperoleh informasi mengenai kewajiban hukum klien. Dokumen dan catatan hukum yang diperlukan adalah akte pendirian dan anggaran dasar perusahaan, notulen rapat, dan kontrak. Client bussiness risk : resiko bahwa klien akan gagal dalam usahanya dan gagal mencapai tujuannya
c.       Melaksanakan prosedur analitis pendahuluan.
d.      Menentukan materialitas dan menetapkan risiko audit yang dapat diterima dan risiko bawaan .
e.      Memahami struktur pengendalian intern dan menetapkan risiko pengendalian .
f.        Mengembangkan rencana audit dan program audit menyeluruh .
5.4 MELAKSANAKAN PROSEDUR ANALISIS PENDAHULUAN
Tujuan pelaksanaan  prosedur analisis :
·         Memahami bidang usaha klien
·         Penetapan kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya
·         Indikasi adanya kemungkinan salah saji dalam laporan keuangan
·         Mengurangu pengujian audit yang terinci


A.     Menentukan materialistis dan risiko

Materialistis dan risiko Adalah unsure penting dalam merencanakan audit dan merancang pendekatan yang akan digunakan.
Materialistas Adalah jumlah atau besarnya kekeliruan atau salah saji dalam informasi akuntansi.
Langkah-langkah dalam penetapan materialistas Adalah sebagai berikut :
Langkah 1 : menetukan pertimbangan awal mengenai materialistas
Langkah 2 : mengalokasikan pertimbangan awal mengenai materialistas
Langkah 3 : mengestimasikan total salah saji dalam segmen
Langkah 4 : mengestimasikan salah saji gabungan
Langkah 5 : membandingkan estimasi salah saji gabungan dengan pertimbangan awal mengenai meterialistas.
Estimasi jumlah kekeliruan atau salah saji dalam tiap segmen (langkah 3) terjadi selama audit. Langkah 4 dan 5 dilakukan pada tahap penyelesaian audit. Selain itu,risiko dalam audit berarti bahwa auditor menerima suatu tingkat ketidakpastian tertentu dalam pelaksanaan audit.

B.      Memahami struktur pengendalian interen

Luasnya pemahaman tersebut ,paling tidak,mencukupi untuk merencanakan audit yang memadai,dalam hal empat masalah spesifik perencanaan,yakni sebagai berikut :
·         Auditability
Auditor harus mendapatkan informasi yang cukup memusakan mengenai integritas manajemen dan sifat serta lus catatan akuntansi,sehingga bahan bukti kompeten tersedia untuk mendukung saldo laporan keuangan.

·         Potensi salah saji yang material
Pemahaman seharusnya memungkinkan auditor untuk mengenditifikasi jenis-jenis kekeliruan dan ketidakberesan yang potensial yang dapat mempengaruhi laporan keuangan,dan menetapkan risiko akibat kekeliruan dan ketidakberesan yang terjadi dalam jumlah yang material terhadap laporan keuangan.
·         Risiko penemuan
Informasi mengenai struktur pengendalian intern dugunakan untuk menetapkan risiko pengendalian bagi setiap tujuan pengendalian,yang selanjutnya mempengaruhi risiko penemuan yang direncanakan.
·         Perancangan pengujian
Informasi yang diperoleh seharusnya memungkinkan auditor untuk merancang pengujian saldo laporan keuangan yang efektif. Pengujian tersebut mencakup baik pengujian terinci atas transaksi maupun atas saldo,prosedur analisis dan yang disebut sebagai pengujian subtantif.
Berikut ini prosedur yang berkaitan dengan perancangan dan penempatan dalam operasi dan dapat dijadikan sebagai bahan untuk memperoleh pemahaman terhadap struktur pengendalian intern klien :
·         Pengalaman auditor dalam periode sebelumnya atas satuan usaha
·         Tanya jawab dengan pegawai klien
·         Kebijakan dan pedoman system klien
·         Inspeksi dokumen dan catatan
·         Pengamatan atas aktivitas dan operasi satuan usaha

C.      Mengembangkan rencana dan program audit menyeluruh

Rencana audit dan program audit berkaitan dengan jenis-jenis pengujian audit yang dilakukan,yaitu prosedur untuk memperoleh pemahaman atas struktur pengendalian intern,pengujian atas pengendalian,pengujian substantive atas transaksi,prosedur analisis dan pengujian terinci atas saldo.
D.     Prosedur analisis
Prosedur analisis merupakan evaluasi terhadap informasi keuangan yang dibuat dengan mempelajari hubungan yang masuk akal antara data keuangan yang satu dengan data keuangan yang lainnya,atai antara data keuangan dengan non keuangan.
Prosedur analisis antara lain mencakup hal-hal sebagao berikut :
·         Membandingkan informasi keuangan tahun berjalan dengan :
-          Tahun-tahun sebelumnya
-          Perusahaan lain di industry yang sama atau rata-rata industry
-          Anggaran dan prakiraan
-          Estimasi prediktif auditor
·         Analisis mengenai hubungan antara unsur-unsur informasi keuangan yang diharapkan bersesuian dengan pola yang terprediksi
·         Membandingkan informasi keuangan dengan informasi nonkeuangan
·         Membandingkan dari cabang yang satu dengan yang lainnya,atau antara lokasi yang satu dengan yang lainnya.
Beberapa hal yang harus dinyatakan dari hasil pelaksanaan prosedur analisis,antara lain sebagai berikut :
·         Pemahaman tentang bidang usaha dan industry klien
·         Karakteristik keuangan dari industry yang bersangkutan
·         Penetapan kemampuan klien untuk mempertahankan kelangsungan usahanya
·         Penekanan audit  karena adanya indikasi kekeliruan dalam laporan keuangan seperti adanya perbedaan yang signifikan antara data keuangan tahun berjalan dengan tahun-tahun sebelumnya,atau antara data keuangan klien dengan data keuangan dari industry terkait


Contoh beberapa prosedur analisis dalam kaitannya dengan tes saldo nilai persediaan pada siklus persediaan dan pergudangan Adalah sebagai berikut :

Prosedur analisis
Kemungkinan kekeliruan
Bandingkan persentase margin bruto dengan tahun lalu
Lebih saji atau kurang saji persediaan dan harga pokok penjualan
Bandingkan perputaran persediaan dengan tahun lalu
Keusangan persediaan yang berdampak pada harga  pokok penjualan
Bandingkan biaya per unit persediaan dengan tahun lalu
Lebih saji atau kurang saji persediaan dan harga pokok persediaan
Bandingkan nilai persediaan dengan tahun lalu
Kekeliruan dalam kompilasi biaya per unit atau perluasannya yang berdampak pada persediaan dan harga pokok penjualan
Bandingkan biaya manufaktur tahun berjalan dengan tahun lalu
Salah saji biaya per unit persediaan,terutama upah langsung dan overhead pabrik,yang berdampak pada persediaan dan HPP

Tujuan prosedur analisis pada tahap penyelesaian audit Adalah untuk menunjukkan kemungkinan adanya salah saji/kekeliruan (arahan perhatian) dan menilai kelangsungan hidup usaha.
Prosedur analisis pada tahap penelaahan secara menyeluruh tersebut dapat membantu auditor dalam menilai kesimpulan yang diperoleh dan dalam mengevaluasi penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Penelahaan secara menyeluruh umumnya meliputi pembacaan laporan keuangan dan catatannya serta mempertimbangkan hal-hal berikut ini :
a.      Kecukupan bukti yang terkumpul sebagai respon terhadap saldo yang tidak biasa atau yang tidak diharapkan,yang diidentifikasi pada waktu perencanaan audit atau dalam pelaksanaan audit.
b.      Saldo atau hubungan yang tidak biasa atai tidak diharapkan yang sebelumnya tidak diidentifikasi.




Sumber informasi
Sumber-sumber informasi yang dapat digunakan untuk melakukan prosedur analisis dapat diperoleh dari :
·         Surat kabar dan majalah industry
·         Laporan keuangan periode berjalan dan periode-periode sebelumnya
·         Rencana kerja dan anggaran perusahaan
·         Data-data non keuangan

5.5 KERTAS KERJA AUDIT DAN PROGRAM AUDIT
Kertas Kerja Audit
            Kertas kerja audit berguna sebagai alat bertahan bagi auditor terhadap tuntutan pengadilan atas kelalaian atau penyelewengan yang di tuduhkan dan juga sebagai alat untuk mengumpulkan segala informasi yang penting yang menjadi bahan laporan audit.
      Kertas kerja audit akan mencerminkan standart audit dan prosedur audit yang dijalankan serta kesimpulan apa yang dapat di tarik sebagai hasil audit.
      Kertas kerja audit harus di buat secara teratur, hati-hati, bersih, dan teliti serta mudah di mengerti. Penanggung jawab dan supervisor mereview kertas kerja audit dengan tujuan sebagai berikut :
    Meyakinkan bahwa program audit telah dilaksanakan dengan tepat.
    Meyakinkan bahwa audit telah dilakukan sesuai dengan standart auditing yang di tetapkan IAI.
    Meyakinkan bahwa laporan keuangan telah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
      Kertas kerja audit bukan memuat salinan dari buku / dokumen perusahaan, tetapi memuat ikhtisar data di sertai kesimpulan audit. Data yang dimuat dalam kertas kerja audit harus merupakan data yang perlu untuk mendukung laporan, perlu untuk penyelidikan di kemudian hari dan perlu untuk verifikasi ketepatan pembukuan tranksaksi.
      Setiap kertas kerja harus ditanda tangani dan di beri tanggal oleh auditor pada saat selesai dikerjakan. Di atas kertas kerja audit harus dicantumkan nama klien, nama dan nomor akun, dan tahun buku yang di audit serta petunjuk kepada program audit yang bersangkutan. Kertas kerja audit harus lengkap sehingga bebas dari kekurangan-kekurangan sebagai berikut :
    Kekurangan bukti bahwa system pengendalian intern telah diselidiki dan ternyata cukup baik atau lemah.
    Gagal menjelaskan sesuatu masalah yang timbul dari audit sebelumnya.
    Gagal untuk menyajikan pembahasan biaya dan pendapatan yang tidak di analisis.
    Lalai menunjukan prosedur audit yang dilaksanakan.
    Gagal melakukan koreksi yang ada hubungannya antara pos yang satu dengan yang lain.
    Data yang diperoleh tidak lengkap untuk menyusun laporan.
    Dasar penilaian harga aktiva tidak diungkapkan, caranya dan konsistensinya.
    Surat pernyataan manajemen tidak diperoleh mengenai persediaan barang, hutang, ataupun komitmen lainnya.
    Gagal meyiapkan hasil audit atas tranksaksi penting yang terjadi setelah tanggal neraca.
    Gagal menyiapkan hasil audit atas penyelesaian hutang pajak tahun buku sebelumnya.
    Gagal merinci nama-nama dan jenis efek / sekuritas serta wesel tagih.
    Gagal membandingkan harga perolehan aktiva dengan harga pasar.
    Gagal menyelidiki pengawasan atas persediaan barang, system pembebanan bahan, upah, dan overhead serta pengawasan atas persediaan barang yang usang.
    Gagal menjelaskan saldo kas yang sebenarnya bukan saldo kas (pinjaman).
    Gagal mengumpulkan dan menganalisis hasil jawaban konfirmasi.
Dalam membuat kertas kerja audit perlu di perhatikan syarat-syarat pengerjaannya, yaitu sebagai berikut :
1.      Tulis nama preusan yang di audit. di tengah sebelah atas sekali pada kertas kerja.
2.      Di bawah ad. 1 tulisan nama akun neraca, laba-rugi, atau sasaran alinnya.
3.      Di bawah ad. 1 dan ad. 2 tulis tahun buku yang di audit..
4.      Tulis nomor index di sebelah kanan atas.
5.      Tulis nomor index penunjuk ke mana / dari mana di pindahkan.
6.      Kertas kerja tidak diisi bolak-balik (tulisi bagian depan saja).
7.      Daftar penunjang harus terpisah dari daftar utama.
8.      Sebutkan cara verifikasi dan prosedur audit lainnya yang dipakai dan tulis kesimpulannya.
9.      Minta tembusan (bukan salinan sendiri) kontrak, peraturan, dan risalah rapat dan lain-lain, untuk menghemat waktu.
10.  Tiap kertas kerja harus ditandatangani pelaksana dan ketua tim serta di  beri tanggal sebelah bawah atau kanan atas.
11.  Bila perlu, pakai kode / simbol audit yang lain.
12.  Kertas kerja audit harus dibuat dengan bersh, jelas, teratur, dan mudah dibaca.
13.  Yakinkan bahwa tidak ada kesalahan perhitungan matematis.
14.  Jangan dimasukkan hal-hal yang tidak perlu atau tidak ada hubungannya.
15.  Koreksi yang perlu harus diberi penjelasan yang cukup dan harus sesuai dengan yang tercantum dalam daftar koreksi audit serta neraca lajur.
      Kertas kerja audit harus diberi index agar memudahkan untuk melihat kembali bila sewaktu-waktu diperlukan. Terdapat beberapa cara untuk memberi index, misalnya :
Cara 1             -     Dengan memberi nomor urut angka terhadap kertas kerja yang pokok dan pada tiap daftar perincian utama. Daftar perincian penunjang di beri nomor urut sesuai dengan daftar perincian utama dengan sub nomor urut angka. Cara ini dapat menampung perluasan.
Cara II             -     Dengan memberi kode urut alphabet (huruf) terhadap kertas kerja yangpokok dan pada tiap daftar perincian utama, sedangkan untuk daftar perincian penunjang di beri nomor urut angka. Bila untuk daftar perincian utama telah di pakai seluruh alphabet, maka selanjutnya dipaki huruf double.
Cara III            -     Dengan memberi kode huruf double untuk semua daftar di luar keuangan (non financial) dan nomor urut angka mulai dari 101 untuk kertas kerja pokok dan daftar perincian utama yang diikuti dengan huruf untuk daftar perincian penunjang.
Cara IV            -     Dengan memberi nomor urut angka, baik untuk daftar di luar keuangan maupun daftar keuangan, daftar perincian utama dan daftar perincian penunjang. Cara ini paling sederhana.
                        Selain itu masih terdapat cara lainnya, yaitu dengan memberi angka romawi untuk daftar non keuangan dan daftar keuangan yang pokok dan selanjutnya diberi nomor urut angka biasa untuk daftar perincian penunjangnnya.
PT. ABC
No. Index      : Q
ANALAISA AKUN PENJUALAN
Dibuat oleh    : TN
Tahun Buku 2000
Tanggal         : 2/3/01
(dalam ribuan rupiah)
Direview oleh : JN




Tanggal       : 9/3/01
BULAN
BARANG A
BARANG B
BARANG C
JUMLAH
JANUARI
19,976.00
24,866.00
24,853.00
69,695.00
FEBRUARI
20,169.00
28,328.00
30,905.00
79,402.00
MARET
23,818.00
30,967.00
20,333.00
75,115.00
APRIL
23,016.00
24,444.00
40,904.00
88,364.00
MEI
25,148.00
28,228.00
29,064.00
82,440.00
JUNI
24,866.00
33,999.00
29,417.00
88,282.00
JULI
23,206.00
31,386.00
38,783.00
93,375.00
AGUSTUS
26,241.00
26,556.00
39,689.00
92,486.00
SEPTEMBER
27,444.00
36,283.00
22,383.00
86,110.00
OKTOBER
22,903.00
25,062.00
39,260.00
87,225.00
NOVEMBER
20,346.00
19,035.00
36,035.00
75,416.00
DESEMBER
20,205.00
22,121.00
29,761.00
72,087.00
TOTAL :
990000 TB


RETUR PENJUALAN



APRIL
1,450.00
860.00
300.00
2,610.00
NOVEMBER
1,206.00
936.00
248.00
2,390.00




5,000.00

PENJUALAN BERSIH TAHUN 2000
985000 \/\

KETERANGAN :



W = PENJUALAN TELAH DI TARSIR


 = BUKTI YANG MENDUKUNGNYA TELAH DIPERIKSA

 = = TELAH DI CEK PENJUMLAHANNYA


TB =TELAH DICOCOKKAN DENGAN BUKU PENJUALAN

\/\ = PENJUMLAHAN TELAH DI CEK







KESIMPULAN :



JUMLAH PENJUALAN BENAR DAN TANPA KOREKSI




















AGENDA AUDIT/ DAFTAR NOTISI




PT KXT
No. Index     : B
PERTANYAAN DAN KOMENTAR YANG PERLU
Dibuat oleh   : TN
AKUN KAS KECIL
Tanggal        : 2/3/01
TAHUN BUKU 2000
Direview oleh : JN


Tanggal        : 9/3/01
NO
MASALAH YANG DITEMUKAN
URAIAN PENYELESAIAN
1
Bukti penerimaan kas No. 10 sebesar Rp. 15000
telah ditandatangani yang bersangkutan

belum ditanda tangani oleh kasir.
tanggal ….
2
Pengeluaran tanggal 7-7-2000 sebesar Rp. 100000
kesalahan telah dikoreksi, lihat jurnal

salah pembebanannya, seharusnya ke biaya advertensi
koreksi nomor ….

bukan Rupa-rupa biaya umum

3
Dst.








  Program Audit
               Auditor harus mengembangkan dan mendokumentasikan program audit untuk menetapkan sifat, waktu dan luasnya prosedur audit yang di rencanakan yang di perlukan untuk melaksanakan rencana audit. Dokumentasi rencana audit umumnya akan mencakup rincian umum dari aktivitas klien, bagan alir, dan atau deskripsi naratif dari sistem akuntansi, kuesioner pengendalian intern, program audit terinci, review analitis, kertas kerja, anggaran waktu, dan lain-lain.
         Program audit harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi pada tiap-tiap perusahaan yang di audit. Setiap langkah audit harus di arahkan kepada cara yang efisien, sehingga di peroleh informasi yang cukup untuk menilai kewajaran atas penyajian laporan keuangan dan sesuai tidaknya dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di indonesia.
Tujuan program audit adalah sebagai berikut :
       Membantu auditor dalam merencanakan, mengorganisasikan, dan mengendalikan penugasan.
       Melengkapi catatan tertulis dalam kertas kerja yang menunjukan bahwa program audit : 1. Direncanakan sesuai dengan tujuan pengujian yang diharapkan, dan 2. Dilaksanakan sesuai dengan standart auditing yang di tetapkan IAI melalui pemilihan prosedur yang tepat.
       Sebesar mungkin menghemat waktu dan usaha bagi personil klien dan auditor sendiri.
       Mengembangkan informasi dan usulan-usulan yang akan membantu klien meningkatkan akuntansi dan prosedur lainnya, dan oleh karena itu, efektivitas operasi mereka.
Beberapa hal yang harus di pertimbangkan dalam merancang program audit :
       Permasalahan dan teknik baru yang memerlukan modifikasi dan revisi prosedur audit, dengan demikian program audit harus di – review untuk setiap pengujian dan penugasan.
       Program audit harus dirancang sedemikian rupa sehingga menyediakan gambaran yang jelas mengenai masalah-masalah utama yang di antisipasi (termaksud kelemahan dalam pengendalian intern).
            Sebelum menyiapkan program audit, auditor harus memperoleh pemahaman struktur pengendalian intern klien, kecukupan untuk merencanakan audit dan mengembangkan pendekatan audit yang efektif. Auditor harus menilai risiko bawaan dalam mengembangkan rencana audit dan membuat penilaian awal atas resiko pengendalian pada tingkat arsersi dari setiap saldo akun atau kelompok tranksaksi yang material. Auditor juga di haruskan melakukan prosedur analitis selama audit pada tahap perencanaan.
            Program audit dirancang dalam tiga bagian : 1) pengujian atas tranksaksi, 2) prosedur analitis, 3) pengujian terinci atas saldo.
Pengujian atas Tranksaksi
            Programa audit pengujian atas tranksaksi biasanya mencakup bagian penjelasan yang mendokumentasikan pemahaman yang di peroleh mengenai struktur pengendalian intern. Program audit pengujian atas tranksaksi akan mencakup baik pengujian atas pengendalian maupun pengujian substantif atas tranksakso dan bervariasi tergantung pada rencana resiko pengendalian yang di tetapkan. Jika pengendaliannya efektif dan resiko pengendaliannya yang di rencanakan rendah, penekanan akan banyak di berikan kepada pengujian atas pengendalian.

Prosedur Analisis
            Prosedur analitis dilakukan pada tiga tahap audit yang berbeda : dalam tahap perencanaan untuk membantu auditor menentukan bahan bukti lain yang diperlukan untuk memenuhi resiko audit yang diinginkan, selama pelaksanaan audit bersama-sama dengan pengujian atas tranksaksi dan pengujian terinci atas saldo, dan mendekati penyelesaian akhir audit sebagai pengujian kalayakan akhir.
Pengujian terinci atas saldo
            Program audit pengujian terinci atas saldo di orientasikan kepada masing-masing tujuan audit berkait saldo. Perancangan prosedur tersebut bersifat subjektif dan memerlukan pertimbangan profesional.
            Program audit standar disiapkan sebagai pedoman untuk pengujian audit prosedur dan verifikasi yang diperlukan untuk memungkinkan auditor menyatakan pendapatnya dengan benar dan wajar atas laporan keuangan klien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar