Sabtu, 05 Februari 2011

TUGAS KUIS AGAMA ISLAM

Kuis II
1.     Menurut beberapa penelitian,bahwa masih banyak orang Indonesia yang mayoritas beragama islam memiliki etos kerja yang sangat rendah. Coba anda uraikan!
a.    Kenapa hal itu masih terjadi pada diri kaum muslimin Indonesia?
b.    Bagaimana menurut anda cara-cara mengubah sikap umat islam Indonesia yang masih banyak memiliki etos kerja rendah?

Jawab :
a.           Salah satu faktor yang menyebabkan krisis multidimensi Indonesia sejak tahun 1997 adalah merajalelanya etos kerja yang buruk. saya mengambil contoh di tiga bidang saja.Pertama di bidang ekonomi, masyarakat lebih mengutamakan ekonomi rente daripada ekonomi riil, sebuah cerminan etos kerja yang ingin cepat kaya tanpa kerja keras. Kedua di bidang birokrasi untuk bias duduk di jabatan tertentu harus menyogok, yang mencerminkan etos yang mengutamakan jabatan demi uang dan kekuasaan daripada prestasi dan pelayanan publik.Ketiga dibidang pendidikan, ijazah bias dibeli asal ada uang, merupakan cerminan etos buruk yang menginginkan gelar tanpa kompetensi.

b.           Sebagai perbandingan, kita dapat mengutip etos jepang dan jerman. Jepang terkenal dengan etos samurai, (1) bersikap benardan bertanggung jawab, (2) berani dan ksatria, (3) murah hati dan mencintai, (4) bersikap santun dan hormat, (5) bersikap tulus dan sungguh – sungguh, (6) menjaga martabat dan kehormatan, dan (7) mengabdi pada bangsa. Bagaimana dengan Indonesia? Mengutip Mochtar Lubis dalam bukunya Manusia Indonesia [1977], ‘etos kerja’ orang Indonesia adalah (1) Munafik atau hipokrit. Suka berpura-pura, lain di mulut lain di hati; (2) Enggan bertanggung jawab. Suka mencari kambing hitam; (3) Berjiwa feodal. Gemar upacara, suka dihormati daripada menghormati dan lebih mementingkan status daripada prestasi; (4) Percaya takhyul. Gemar hal keramat, mistis dan gaib; (5) Berwatak lemah. Kurang kuat mempertahankan keyakinan, plinplan, dan gampang terintimidasi. Dari kesemuanya, hanya ada satu yang positif, yaitu (6) Artistik; dekat dengan alam.
Pandangan Mochtar Lubis ini kemudian dipertanyakan kembali oleh Jansen. Benarkah Indonesia memiliki etos seperti itu? Namun saya mengakui bahwa etos orang Indonesia di atas memang sulit dipungkiri, tampaknya merupakan sebuah kenyataan yang pahit. Dan karena hal tersebut bangsa Indonesia kini sudah menjadi bangsa paria di dalam pergaulan internasional. Utang semakin banyak, korupsi marajalela dan tidak mampu menangani bencana dalam negeri. Contohnya saat bencana di Aceh dan Nias, menjadi cermin yang nyata betapa miskin dan tidak berdayanya bangsa ini. Mengurus rakyat hampir tidak mampu tetapi KKN jalan terus.
2.    Di era globalisasi sekarang ini,tuntutan terhadap profesionalitas kerja jelas semakin meningkat. Tuntutan profesionalitas tersebut tidak terbatas pada kemampuan teknis saja tetapi juga terkait aspek kepribadian. Apa upaya yang bisa saudara lakukan untuk memenuhi tuntutan tersebut?

Jawab :

        Tuntutan profesionalitas kerja dengan sendirinya menciptakan atmosfir tempat kerja yang penuh persaingan
        Jadi sikap yang harus kita tanamkan dalam hati kita adalah bahwa temapt kerja adalah tempat dimana kita ditantang untuk maju.
        Dengan ambisi untuk bisa keluar sebagai pemenang, kita tidak diperkenankan untuk menempauh segala cara untuk itu, termasuk cara-cara yang tidak terpuji
-      Orang yang profesional memiliki sportifitas yang tinggi, keberhasilan atau
      klemenangan hanya dia letakkan di atas kerja kerja dan prestasi yang baik
        keberhasilan dalam bekerja tidak hanya dilihat dari segi imbalan materi atau kenaikan pangkat atau yang lain, melainkan harus dilihat dari : sejauhmana saya sudah merealisasiakn dan mengaktualkan diri saya dalam dan melalui pekerjaan. Artinya bekerja harus dilihat sebagai bagian dari aktualisasi diri. Kerja hanya merupakan wadah di mana kita mengembangkan dan menghayati diri kita.
        Kondisi ideal: prestasi yang baik akan dibalas dengan kenaikan gaji, kenaikan pangkat atau penambahan fasilitas
      Lebih ideal, selain yang di atas, kta juga senang mengerjakan pekerjaan itu (bagaikan hobby).

3.    Setiap orang menginginkan kebahagiaan hidup dunia akhirat. Islam Adalah agama yang mengajarkan kepada umatnya agar meraih dua kesuksesan tersebut. Bagaimanakah islam memandang kesuksesan hidup di dunia dan modal apa yang diperlukan untuk mendapatkan kesuksesan tersebut?

Jawab :

Banyak orang yang mengira bahwa mungkin saja menjalani kehidupan yang sempurna di dunia ini. Menurut pandangan ini, hidup yang bahagia dan menyenang-kan dicapai melalui kelimpahan materi, yang bersama dengan sebuah kehidupan rumah tangga yang memuaskan dan pengakuan atas status sosial seseorang umumnya dianggap sebagai asas bagi kehidupan yang sempurna. Namun menurut cara pandang Al Quran, suatu “kehidupan yang sempurna” yaitu, kehidupan tanpa masalah adalah mustahil di dunia ini. Ini semata karena kehidupan di dunia memang sengaja dirancang untuk tidak sempurna.
Akar kata bahasa Arab bagi ‘dunia’ dunya mempunyai sebuah arti penting. Secara etimologis, kata ini diturunkan dari akar kata daniy, yang berarti “sederhana”, “remeh”, “rendah”, dan “tak berharga”. Jadi, kata ‘dunia’ dalam bahasa Arab secara inheren mencakup sifat-sifat ini. Ketidakberartian kehidupan ini ditekankan berkali-kali pada awal situs ini. Memang semua faktor yang dipercaya akan membuat hidup indah — kekayaan, kesuksesan pribadi dan bisnis, pernikahan, anak-anak, dan seterusnya — tak lebih dari tipuan yang sia-sia. Ayat tentang ini sebagai berikut:
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warna-nya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadiid, 57: 20)
Modal yang kita perlukan untuk mencapai kesuksesan tersebut, maka kita perlu menyiapkan  empat modal dasar utama, antara lain Spiritual, Emosional, intelektual, fisik. Penguasaan dan penggunaan teknologi relevan dibidang masing-masing mampu merubah suaru kondisi dan kendala yang berupa perubahan menjadi peluang yang baik berupa kemenangan dunia dan akhirat.

 Dalam menghadapi kondisi yang menyulitkan kita harus mampu memilih yang terbaik  mengasah dan mengatur hidup kita, harus mampu menjalani suatu program melatihan untuk membuat suatu kebiasaan kita yang sangat positif untuk perubahan diri kita. Dengan caraharus mampu menyusun kurikukum hidup kita dalam suatu pembelajaran agar tercapai apa yang kita cita-citakan adalah kemenangan yang hakiki dalam pandangan Allah ( al Falah). Kemudian adanya pendidikan diri, dan belajar mandiri. Perubahan diri dapat dicapai dengan cara, antara lain :membaca, mendengan, belajar, berbicara dengan diri sendiri,berjanji dengan diri sendiri,beribadah,berdoa, tawaqal kepada Allah dan bertobat.



kuis III

1.     Salah satu sendi ajaran islam Adalah akhlak. Selain akhlak kepada Allah,akhlak kepada manusia karena kita Adalah manusia social,juga akhlak kepada lingkungan hidup. Pertanyaan :
a.    Jelaskan pengertian akhlak social islami dan bagaimana cara mengimplemantasikannya dalam masyarakat?
b.    Apa pendapat anda tentang kerusakan alam sekitar dan bagaimana perwujudan akhlak kepada lingkungan hidup?

Jawab :

a.         Ajaran Islam sangat banyak memberikan dorongan kepada sikap-sikap untuk maju. Kemajuan materi (madiyah) akan terpacu oleh akhlak manusia yang menggenggam materi tersebut. Akhlak adalah perangai yang berakar didalam hati sebagai anugerah dari Khalik Maha Pencipta. Adalah satu kenyataan belaka bahwa makhluk manusia mesti terikat erat dengan Khalik sang Pencipta. Akhlak adalah jembatan yang mendekatkan makhluk dengan Khaliknya. Menjadi parameter menilai sempurna atau tidaknya ihsan Muslim itu. Melaksanakan agama sama artinya dengan ber akhlak sesuai dengan tuntunan agama Islam. Karena itu, agama bukanlah sebuah beban, melainkan adalah sebuah identitas (cirri, shibgah).
Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa adanya manusia lainnya. Untuk itu, Allah telah menetapkan amal-amal yang harus dikerjakan manusia untuk manusia lainnya, dan memang sudah menjadi kodrat manusia untuk selalu berbuat dan berakhlak baik kepada dirinya sendiri maupun manusia lainnya. Contoh muamalah sangat lekat dalam kehidupan sehari-hari, bahkan pada saat kita menunaikan ibadah yang bersifat hablum minallah, seperti shalat. Pada saat kita memulai ibadah shalat, melakukan takbiratul ihram, kita melafadzkan takbir “Allahu Akbar”, Allah Maha Besar, suatu ucapan yang mengagungkan dan membesarkan nama Allah SWT, sehingga hal ini termasuk ibadah hablum minallah. Sedangkan ketika mengakhiri shalat kita mengucapkan salam “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”, semoga kamu selamat, rahmat, serta berkah Allah selalu menyertaimu. Ucapan ini dapat diklasifikasikan sebagai ucapan ibadah kepada sesama manusia karena salam tersebut ditujukan kepada sesama muslim. Dalam rukun Islam juga terdapat ibadah zakat yang harus ditunaikan oleh seluruh umat Muslim yang mampu. Ibadah ini Allah tetapkan sebagai wujud keharusan kepada manusia agar memiliki kepedulian sosial terhadap manusia lainnya. Selain itu, Islam juga mengenal sistem ekonomi yang berlandaskan syariat Islam yang mengharamkan riba’ sehingga tidak membebani orang-orang yang kurang mampu, sistem ekonomi ini dikenal dengan sebutan sistem ekonomi syariah atau sistem ekonomi muamalah. Contoh-contoh memperlihatkan bahwa ibadah muamalah tak dapat dilepaskan dan dipisahkan dari keseharian umat manusia.
b.          Banyak dari kita yang hanya meemikirkan kenyamanan pribadi tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi pada lingkungan di sekitar kita maupun lingkungan global secara keseluruhan. Hanya karena merasa punya uang, kita tidak mengindahkan peringatan dan himbauan untuk melakukan pengheematan energi.
     “Ah, saya mampu membayar berapapun tagihan listrik yang ada. Jadi terserah saya dong untuk memakai listrik sesuka hati saya. Saya sanggup membeli BBM berapapun yang saya mau, jadi terserah saya dong mau beli mobil yang borosnya kayak apa.” Berapa banyak energi dan sumber daya yang harus terbuang sia-sia hanya karena orang-orang ingin menikmati kenyamanan yang sesungguhnya tidak benar-benar mereka perlukan. Berapa banyak energi dan sumber daya yang terbuang sia-sia hanya karena mereka ingin terlihat tampil bergengsi. Orang-orang seringkali membeli hal-hal yang tidak mereka perlukan, mengganti barang-barang yang semestinya masih bisa digunakan hanya karena alasan bosan. Kita tidak pernah memikirkan berapa banyak tenaga dan sumber daya planet ini yang rusak untuk memenuhi kebutuhan egois kita tersebut.
       Uang Anda memang bisa membeli berliter-liter BBM, tetapi uang tersebut tidak dapat mengembalikan tiap liter BBM yang telah Anda ambil dari alam butuh jutaan tahun untuk menghasilkan BBM yang Anda nikmati tersebut. Janganlah memikirkan kenyamanan hidup Anda sendiri. Setidaknya pikirkanlah keadaan generasi penerus Anda, mereka harus menjalani hidupnya dengan segala sumber daya yang sangat terbatas karena ulah orang tua, kakek nenek, dan nenek moyangnya di masa lalu. Lalu Anda akan berpikir, tetapi bukankah kita memiliki energi alternatif seperti bio fuel, hidrogen, dan lain-lain? Tetap saja semua itu tidak gratis, selalu ada yang harus dikorbankan. Bio fuel menyebabkan kerusakan lingkungan karena penanaman tanaman bahan bakar tersebut membutuhkan lahan yang tidak sedikit. Hidrogen maasih mahal dan belum dapat diproduksi dengan efisien. Bagaimana seandainya planet kita sudah hancur duluan sebelum kita dapat menikmati semua kenyamanan teknologi tersebut? Saat ini kita berpacu dengan waktu. Begitu banyak orang di belahan dunia lainnya yang sangat membutuhkan tiap tetes BBM yang kita nikmati, tiap tetes air bersih yang kita nikmati, dan hal-hal mendasar lainnya untuk mendukung kehidupan mereka. Berrhematlah dalam segala bentuk yang Anda bisa. Lakukanlah untuk dunia, lakukanlah untuk generasi penerus Anda.
kita ini ketika duduk di taman nan hijau entah sadar atau tak kita cabuti rumput atau daun-daunan yg ada tanpa alasan yg jelas. Padahal rumput daun dan tumbuh-tumbuhan yg ada di alam semesta ini semua sedang bertasbih kepada-Nya. Yang paling baik adl jangan sampai ada makhluk apapun di lingkungan kita yg tersakiti. Termasuk ketika menyiram atau memetik bunga tanaman atau tumbuhan lain hendaklah dgn hati-hati krn tanaman juga mengerti apa yg dilakukan kita kepadanya. Dikisahkan ketika Nabi SAW pindah mimbar yg asal menyandar pada sebuah pohon kurma maka pohon kurma itu diriwayatkan sangat sedih dan menangis krn ia telah ditinggalkan sebagai alat bantu Rasulullah SAW dalam menyampaikan ilmu kepada para sahabatnya.
2.    Jelaskan wujud responsibiloitas anda sebagai mahasiswa muslim melihat realitas social kehidupan umat yang akhir-akhir ini jauh dari nilai-nilai akhlak islami?
Jawab :
       masih banyak prilaku kita yang arogan, sombong dan maksiat. Agama ( Islam ) di tepiskan dan nafsu yang di kedepankan, penumpahan darah antar sesama manusia terjadi setiap saat, nyawa manusia menjadi sangat murah, perjudian, perampokan terjadi dimana-mana, pemerasan dan penindasan terhadap yang lemah disana-sini. Gelaktawa orang menari diatas penderitaan orang lain makin nyaring terdengar. Sementara disisi lain kaum sekuler yang materialistic dan hedonistic masih lantang menyuarakan tuntutan kebebasan, bebas dari norma dan agama, akibatnya muncul budya urakan, pergaulan bebas ( free sex ),berpakaian seronok mengumbar aurat setengah telanjang, alkohol dan narkoba pun marak dikota dan didesa, pornografi dan pornoaksi seolah-olh menjadi perangkat dan lambang kehidupan modern. Belum lagi gaya hidup yang serakah dan tamak menjadi dorongan melakukan tindakan tidak punya malu, anehnya justru di lakukan oleh petiggi Negara,kalangan intelektual dan orang-orang “terhormat”yang sebenarnya sudah lebih dari cukup, sehingga Indonesia kini punya julukan baru Negara terkorup no 2 di dunia, dan kejahatan lain yang tidak mungkin di ungkap satu persatu di sini.


kita mengevaluasi diri terhadap semua peristiwa yang terjadi hendaknya
menjadi suatu pelajaran yang sangat berharga, khususnya kita sebagai umat
Islam yang belum dapat membuktikan bahwa Islam adalah agama yang
semestinya mampu memberikan kontribusi positif terhadap krisis peradaban.

      Islam adalah agama yang bisa membawa arah dan corak kehidupan yang
rahmatan lil ‘alamin. Tetapi kenyataan masih terus -menerus di timpa
kerendhan dan kehinaan. Tentu saja ada yang tidak pas pada kita dalam
melaksanakannya. Sebenarnnya kita mempunyai aqidah dan qaidah hidup dengan prinsip-prinsip hidup yang jelas. Islam agama yang di turunkan Allah untuk seluruh umat dan segala bangsa, agama lngkap dan sempurna mencakup segala aspek hidup,baik aqidah, ubudiyah maupun ijtima’iyyah. Dan dalam hal ini Allah memerintahkan agar kita melaksanakan Islam secara kaaffah (keseluruhan ) tidak sepotong-sepotong. Sebagaimana firman Nya;
Artinya ; “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam
secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.
Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” ( Al-Baqarah : 208 )

      Satu hal yang sangat prinsipil dan merupakan pilar tegaknya Islam telah
lama di tinggalkan yang menjadi sebab hilang sibghoh dan wijhah (warna dan
arah) yaitu sistem dan pola hidup ber jama’ah dan ber imamah. Aqidah yang kuat dan qaidah Islam yang benar pasti akan melahirkan pola hidup berjama’ah dan berimamah. Itu pola dan fitrah kita sebagai muslim,teladan sunnah dan pola nubuwwah. Sistem dan pola yang telah ditempuh dan dijalankan oleh para Anbiya dan Auliya. Selama umat Islam di seluruh dunia idak merupakan umat jama’ah dan imamah,selama itu pula mereka hanya menjadi objek permainan orang, mutunya lenyap, nilainya enteng, harga dirinya rendah, pribadinya murah !

3.    Barack Obama seorang warga Negara Amerika (African American) terpilih menjadi presiden USA k 44 dan menjadi presiden Amerika pertama yang berkulit hitam. Pada pidato kemenangannya yang dihadiri oleh ± 200 ribu orang,berlangsung dengan tertib,aman,dan tidak ada peristiwa anarkis. Menurut anda mengapa hal tersebut diatas dapat terjadi dan mengapa di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama islam seringkali kita melihat perbuatan anarkis?




Jawab :

Kegagalan Reaganomic dan kekalahan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam di tahun 1980-an turut memanaskan suhu dunia punk pada saat itu. Band-band punk gelombang kedua (1980-1984), seperti Crass, Conflict, dan Discharge dari Inggris, The Ex dan BGK dari Belanda, MDC dan Dead Kennedys dari Amerika telah mengubah kaum punk menjadi pemendam jiwa pemberontak (rebellious thinkers) daripada sekadar pemuja rock n roll. Ideologi anarkisme yang pernah diusung oleh band-band punk gelombang pertama (1972-1978), antara lain Sex Pistols dan The Clash, dipandang sebagai satu-satunya pilihan bagi mereka yang sudah kehilangan kepercayaan terhadap otoritas negara, masyarakat, maupun industri musik.

Di Indonesia, istilah anarki, anarkis atau anarkisme digunakan oleh media massa untuk menyatakan suatu tindakan perusakan, perkelahian atau kekerasan massal. Padahal menurut para pencetusnya, yaitu William Godwin, Pierre-Joseph Proudhon, dan Mikhail Bakunin, anarkisme adalah sebuah ideologi yang menghendaki terbentuknya masyarakat tanpa negara, dengan asumsi bahwa negara adalah sebuah bentuk kediktatoran legal yang harus diakhiri.

Negara menetapkan pemberlakuan hukum dan peraturan yang sering kali bersifat pemaksaan, sehingga membatasi warga negara untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Kaum anarkis berkeyakinan bila dominasi negara atas rakyat terhapuskan, hak untuk memanfaatkan kekayaan alam dan sumber daya manusia akan berkembang dengan sendirinya. Rakyat mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa campur tangan negara.

Kaum punk memaknai anarkisme tidak hanya sebatas pengertian politik semata. Dalam keseharian hidup, anarkisme berarti tanpa aturan pengekang, baik dari masyarakat maupun perusahaan rekaman, karena mereka bisa menciptakan sendiri aturan hidup dan perusahaan rekaman sesuai keinginan mereka. Punk etika semacam inilah yang lazim disebut DIY (do it yourself/lakukan sendiri).

Pernahkah terpikirkan di benak anda bahwa demonstrasi di Indonesia yang dimotori oleh para mahasiswa, sebenarnya sangat memalukan. Bagaimana mungkin, mahasiswa notabene orang orang berpendidikan ternyata berperilaku anarkis dan seperti hewan liar. Merusak fasilitas publik, mengotori lokasi yang mereka gunakan saat melakukan demonstrasi, beradu fisik dengan para penegak hukum. Perbuatan mahasiswa yang seperti itu justru tidak mencerminkan orang orang berpendidikan. Mahasiswa berhak untuk berdemonstrasi, namun jangan dilupakan bahwa mahasiswa berkewajiban untuk belajar. Idealnya, hak bisa diminta setelah menunaikan kewajiban. Jadi, seharusnya orang yang mau berdemonstrasi harusnya sudah bisa menunaikan kewajibannya sebagai mahasiswa yaitu belajar dan hal itu tentunya dapat dinilai dari 2 indikator, pertama indeks prestasi, tentunya orang yang telah belajar giat akan memiliki indeks prestasi yang cukup memuaskan. Kedua prestasi di berbagai perlombaan, misalnya debat bahasa inggris, olimpiade mahasiswa, perlombaan desain robot, dan masih banyak lomba lainnya. Permasalahannya, bila kita telisik lebih dalam, mereka yang turun ke jalan itu sebagian besar justru belum menunaikan kewajiban mereka. Artinya, mereka tidak bisa menunjukkan IP yang memuaskan atau memenangi perlombaan yang memiliki gengsi cukup tinggi.

Pernahkah berpikir soal orang tua para mahasiswa yang begitu tinggi menggantungkan harapan kepada masa depan anak-anaknya. Mereka memberangkatkan para mahasiswa itu dengan doa, semoga anaknya bisa menjadi orang yang membanggakan, yang berguna bagi nusa dan bangsa, yang bisa menjadi panutan banyak orang, namun justru lebih memilih turun ke jalan daripada belajar di ruang kelas. Bahkan, orang tua dari mahasiswa yang gugur di tragedi trisakti pun sampai hari ini masih menangisi mengapa anak mereka turun ke jalan untuk membuang nyawa.

Jangan harapkan bangsa ini bisa maju dengan demonstrasi anarkis, karena itu justru hanya akan menambah beban bangsa ini. Bagaimana tidak, mereka yang seharusnya menimba ilmu di kampus, justru lebih mementingkan turun ke jalan untuk mendemo topik yang tidak seharusnya dibesar-besarkan. Demonstrasi memang diperlukan apabila ada sebuah masalah yang mendesak dan harus segera diperhatikan oleh pemerintah. Misalnya demonstrasi 1998, yang berhasil menggulingkan Soeharto, dan mengakhiri masa 32 tahun otoriterisme di Indonesia. Terlebih, akhir-akhir ini banyak demonstran yang sebenarnya hanya massa bayaran dari oknum tertentu yang menginginkan kegoyangan dari stabilitas politik di Indonesia. Hal ini, sangat memalukan bagi mahasiswa, bagaimana mungkin mahasiswa yang merupakan penerus bangsa bisa ‘dibeli’ oleh orang-orang yang lebih memikirkan kepentingannya.

Namun, perlu diperhatikan juga, usia kita baru 65 tahun, jangan lupa, negara sebesar Prancis dan Amerika pun bukan apa-apa ketika baru berusia 65 tahun. Mereka masih terlilit masalah hutang, kemiskinan, tingginya pengangguran, kurangnya kesejahteraan rakyat dan masih banyak lagi. Begitupun dengan pemerintahan SBY-Boediono, mereka berdua beserta segenap jajaran kabinetnya sebagian besar masih produk orde baru, masa muda mereka, dilalui ketika rezim orde baru mencapai masa kejayaannya. Mahasiswa yang kini sudah menikmati kebebasan berpendapat lebih baik dari era orde baru, justru sering kali menggunakan kebebasan itu tidak sesuai dengan porsi yang seharusnya.

Para mahasiswa yang merupakan generasi muda penerus bangsa, alangkah baiknya bila segenap kaum muda bangsa ini bisa menyatukan visi dan misi ke depannya. Karena perlu disadari bahwa suatu saat, orang-orang yang saat ini masih menuntut ilmu di berbagai Universitas akan menjadi pemimpin bangsa, sekitar 30 tahun lagi. Perlu adanya kesadaran mahasiswa bahwa akan lebih baik bila mereka mulai menuntut ilmu sebaik-baiknya, belajar mengenai bagaimana pemerintahan yang baik, belajar soal moral pemimpin bangsa, belajar soal bagaimana mengatasi masalah bangsa ini, dan jangan lupa belajar soal moral dan kejujuran. Sehingga, ketika mereka menjadi pemimpin bangsa ini , kelak, mereka sudah tau apa keburukan pemimpin sebelumnya, dan bisa mencari solusi yang terbaik dari permasalahan ini. Jangan lupa, bahwa bangsa Indonesia yang kita cintai ini, sebenarnya punya generasi muda yang luar biasa, sehingga tidak jarang memenangkan Kompetisi internasional seperti olimpiade, lomba mendesain robot, dan masih banyak lagi. Bukan kah memupuk prestasi dan ilmu itu lebih membanggakan daripada mengumpulkan pengalaman turun ke jalan untuk mendemonstrasikan sesuatu hal yang (sebenarnya) tidak terlalu perlu di permasalahkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar