Minggu, 14 Oktober 2012

5 Rambu Saat Berpacaran dengan Duda

Anda merasa dialah pria yang Anda idam-idamkan selama ini, kecuali bahwa dia ternyata seorang duda. Meskipun Anda merasa nyaman karena Anda menganggapnya jauh lebih berpengalaman ketimbang Anda, namun Anda perlu mengingat bahwa mengencani duda tidak sama dengan memacari pria yang belum pernah menikah.
Banyak hal yang akan menantang kesabaran Anda karena mengencani seorang duda. Seorang duda akan membawa "masa lalu" dalam hidupnya, itulah mantan istri yang masih akan terus ditemuinya berkaitan dengan urusan pengasuhan anak. Hanya karena ia punya anak, tidak berarti ia terburu-buru mencari pasangan melengkapi keluarganya. Sebaliknya, tidak semua duda akan anti dengan komitmen.

Banyak duda yang bersedia menikah lagi dengan perempuan yang dianggapnya tepat untuknya. Hanya saja, berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai seorang pria yakin telah menemukan perempuan yang tepat, tidak sama antara satu dengan yang lain. Setiap pria memiliki karakter dan pengalaman yang berbeda dalam kehidupan perkawinannya yang lalu. Intinya, Anda harus mengenalnya lebih baik sebelum menyusun rencana masa depan bersamanya.
Nah, jika Anda sedang melakukan pendekatan dengan pria duda, coba pikir-pikir lagi sebelum Anda melangkah lebih jauh.
1. Sadari bahwa ia datang dalam "satu paket"
Ketika Anda mengencani seorang duda, ingatlah bahwa ia merupakan "satu paket" khusus. Anda akan harus berhadapan dengan anaknya, atau mantan istrinya. "Waspadalah bahwa anak-anak adalah bagian dari pria tersebut," kata Lisa Bahar, terapis keluarga dan pernikahan di Orange County, California. Ketika ia mulai membawa topik mengenai anak-anaknya, Anda harus mampu bersikap terbuka mengenai perasaan dan masalah-masalahnya. Akan sulit menanggapinya jika Anda belum mempunyai anak atau keponakan, tetapi mau tak mau Anda memang harus memberinya dukungan menanggapi obrolannya.

2. Jangan langsung berharap akan diajak menikah
Mentang-mentang si dia sudah punya anak, jangan langsung ge-er bahwa ia pun ingin segera menikah dengan Anda. Pria yang berpengalaman mengurus anak tidak selalu berarti akan selalu mengurus dan mengemong Anda dengan effort yang sama. Hanya karena ia merasa gagal membina hubungan dengan sang mantan, tidak berarti juga ia akan memprioritaskan perhatiannya pada Anda. Ketika ia bercerai, ia akan mendahulukan kepentingan anak lebih daripada yang lain, agar si anak tidak merasakan dampak buruk dari perceraian orangtuanya.

3. Santai saja
"Anda tidak perlu menjumpai anak-anak seorang pria sampai hubungan Anda lebih stabil dan berarti," papar Lori Freson, pakar hubungan dan terapis keluarga dan pernikahan berlisensi. Tentu ini bukan hal yang mudah, terutama jika Anda benar-benar jatuh cinta dengan pria ini, dan ingin mengenal dirinya dan anak-anaknya lebih baik. Namun, bisa saja pria idaman Anda sebelumnya juga berkencan dengan beberapa wanita lain. Bila setiap kali ia harus mengenalkan teman perempuan yang baru pada anak, tentu tak akan baik efeknya untuk si anak. Beri waktu yang cukup untuk saling mengenal satu sama lain lebih dulu, dan setelah Anda yakin bahwa Anda punya masa depan dengan pria ini, bersiaplah untuk bertemu dengan anak-anaknya.

4. Bertemu anak-anaknya
Anda pasti akan tegang bila akhirnya Anda harus bertemu dengan anak-anaknya. Menurut Freson, strategi terbaik adalah memastikan suasananya tetap kasual. "Bersikaplah ramah, tapi jangan langsung bertekad untuk terlibat dengan anak-anaknya. Lihat dulu reaksi mereka, kalau mereka bersikap hangat terhadap Anda, Anda bisa mendekati mereka lebih jauh," katanya. Bersikap menghargai juga penting, agar Anda pun mendapatkan respek dari si dia maupun anak-anaknya. "Banyak perempuan yang ingin langsung mengambil peran sebagai orangtua, tapi itu adalah kesalahan besar," tambahnya. Ramah dan sabar adalah kuncinya.

5. Pastikan Anda siap
Ketika hubungan Anda semakin serius, dan Anda berdua mulai memikirkan pernikahan, luangkan waktu untuk memahami bagaimana sikap Anda sebagai seorang ibu tiri. Tentu sudah bukan zamannya menjadi ibu tiri seperti yang digambarkan dalam film-film, namun peran ini tetaplah menantang. Bertanyalah pada diri sendiri, apakah Anda siap dengan peran tersebut? Ini pertama kalinya Anda menjadi orangtua, namun Anda harus menjadi orangtua untuk anak orang lain. "Banyak perempuan yang bahagia saat mengasuh anak-anak orang lain, dan itu bisa menjadi awal dari hubungan yang indah dan penuh cinta," tutur Freson. Jangan lupa, Anda juga harus "berbagi suami" dengan anak-anak dan mantan istrinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar