Sabtu, 02 Juli 2011

Pria Kasar Pelaku Bullying?

Studi dari Harvard School of Public Health menunjukkan pria pelaku kekerasan fisik dan seksual terhadap pasangannya, cenderung merupakan pelaku bullying semasa sekolah.  Hasil penelitian ini didapatkan dari survei yang melibatkan 1.491 pria usia 18-35, melalui pusat kesehatan di tiga komunitas di Boston. Hasil riset ini bisa ditemukan di Archives of Pediatric Adolescent Medicine.

Menurut penelitian tersebut, anak pelaku bullying di sekolah, memiliki kecenderungan empat kali lebih besar menjadi pelaku kekerasan saat dewasa. Data ini didapatkan setelah membandingkan hasil survei kepada laki-laki yang mengaku tak pernah melakukan bullying pada masa anak-anak.  Menurut penelitian yang sama, laki-laki dewasa korban bullying pada masa anak-anak, juga cenderung berperilaku kasar kepada istri atau pasangannya.

Dari 1.491 responden pria, 16 persen di antaranya mengaku melakukan kekerasan kepada pasangannya beberapa tahun terakhir. Di antara para pria pelaku kekerasan ini, 38 persen mengaku sering melakukan bullying, sementara 26 persen dari mereka mengaku melakukan bullying namun dengan frekuensi lebih sedikit. Namun secara keseluruhan, dari hampir 1.500 pria, 16 persennya mengaku melakukan bullying terus menerus dan 25 persennya mengaku melakukan bullying dengan frekuensi lebih rendah.

Siklus kekerasan pada perempuan, dengan laki-laki (suami atau pasangan) sebagai pelakunya, juga dipengaruhi sejumlah faktor lain. Survei yang sama menunjukkan anak laki-laki yang menyaksikan kekerasan atau pertengkaran kedua orang tua atau kekerasan di lingkungan, juga cenderung berperilaku kasar dan menjadi pelaku kekerasan saat dewasa.

"Penemuan ini menunjukkan, individu yang tumbuh dengan perilaku kekerasan sejak masa anak-anak, juga akan membawa perilaku kekerasan ini hingga dewasa. Namun tetap dibutuhkan penelitian lebih jauh mengenai akar masalah dari perilaku seperti ini, apakah ada hubungannya dengan kekuasaan, kontrol terhadap perilaku kekerasan, sehingga perilaku seperti ini bisa dicegah," jelas Kathryn L Falb, salah satu peneliti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar