Jumat, 17 Juni 2011

Belajar Berhenti Menjadi "Control Freak"

Anda tentu tahu siapa orang yang punya kecenderungan control freak ini. Mereka yang selalu berusaha mengatur orang lain, atau harus melakukan sesuatu menurut standar Anda. Anda sendiri sering tak sadar telah bersikap sebagai orang yang penuh kontrol. Misalnya, Anda tak mau pernah mau makan di warung yang sepi, karena yakin pasti lantaran masakannya yang kurang enak. Atau, pakaian yang baru disetrika dan digantung di hanger Anda letakkan di deretan paling kanan pada lemari.
Seringkali sikap mengontrol itu memberi pengaruh yang baik. Dengan menata pakaian seperti itu, Anda jadi mudah mengetahui mana pakaian yang belum dapat giliran dipakai ke kantor. Namun bagi orang lain, cara ini bisa saja merugikan, atau merepotkan. Anda menetapkan standar yang sulit diikuti orang lain, dan berakibat penolakan dari mereka. Pada akhirnya, Anda jadi tidak tenang karena pertentangan tersebut.
Agar Anda menjadi bahagia, Anda perlu belajar untuk mengurangi sikap penuh kontrol dari Anda sendiri. Daniel A. Miller, penulis buku Losing Control, Finding Serenity: How the Need to Control Hurts Us and How to Let It Go, berbagi tips mengenai cara mengatasinya.

1. Atasi rasa takut Anda. Sebenarnya, rasa takut adalah pendorong utama untuk mengendalikan tindakan berbahaya. Namun, ketakutan ini harus segera diatasi. Misalnya begini, si kecil tidak diundang ke ulang tahun seorang temannya. Anda tidak perlu menganggap si kecil dikucilkan, dan mendesaknya agar lebih aktif berteman. Terlalu mengatur hidup si kecil bisa menghalangi pembelajaran dan kebebasannya, lho. Untuk mengatasi hal ini, pisahkan rasa takut dari kenyataan yang sebenarnya. Tanya diri Anda, apa sih pengaruhnya kalau si kecil tidak diundang? Apa hikmah yang bisa diambilnya dari kejadian itu?

2. Batasi harapan Anda. Berharap terlalu banyak tentang sesuatu bisa membuat Anda kecewa jika Anda tak berhasil mendapatkannya. Akibatnya, Anda jadi berpegang untuk mengendalikan segala sesuatu. Kalau Anda menekan anak buah untuk memenuhi standar Anda, misalnya, Anda akan kesal dan kecewa bila ia tak dapat memenuhinya. Lalu, hal itu bisa memengaruhi seluruh performa kerjanya. Untuk menentukan harapan yang realistis, tanyakan pada diri Anda, apakah kebutuhan Anda secara keseluruhan memang sepenting itu?

3. Terima pasangan atau anak seperti ada apanya mereka. Dalam relasi kita dengan keluarga atau teman-teman dekat, keinginan untuk mengatur bisa memicu kemarahan dan kekecewaan. Tidak ada orang yang suka disuruh-suruh melakukan sesuatu, atau bagaimana melakukannya. Jika pasangan memiliki kebiasaan tertentu yang mengganggu Anda, cobalah untuk menerima dia apa adanya ketimbang berusaha mengubahnya menjadi seperti harapan Anda. Sikap menerima akan memungkinkan Anda untuk berfokus pada apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas hubungan.
Dengan berlatih mengatasi kemauan untuk selalu mengontrol, Anda akan menyadari bahwa melepaskan kontrol akan memberikan berkah bagi Anda maupun orang-orang di sekitar Anda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar