Senin, 29 November 2010

Cantik dengan Kosmetik Organik

BERSAMAAN dengan gencarnya produk kosmetik yang menawarkan inovasi mutakhir, dunia kecantikan menyerukan suatu langkah perubahan di jalur hijau.

Pemanasan global yang menjadi isu bersama memunculkan berbagai gerakan demi menyelamatkan lingkungan, termasuk di dunia kecantikan. Produk kosmetik dengan kandungan kimia tinggi dari pabrikan besar dianggap tidak ramah lingkungan karena proses pembuatannya mencemari alam.

Dari situlah lahir varian baru, green cosmetics, rangkaian kosmetik dan perawatan tubuh ramah lingkungan. Kosmetik organik juga diklaim lebih berkhasiat dibandingkan kosmetik natural karena mengandung antioksidan 40% lebih banyak.

Selain itu, dibandingkan kosmetik dengan senyawa kimia tinggi, green cosmetics ini lebih cepat diserap tubuh karena sifat bahan-bahannya yang alami. Keuntungan lainnya, dengan menggunakan green cosmetics, maka kita bisa mengurangi paparan bahan kimia pada kulit. Berdasarkan fakta tersebut, wajar bila kaum hawa mulai beralih ke kosmetika “hijau” ini.

Bahkan, sebuah perusahaan survei di Amerika menyebutkan peminat produk kosmetik dan perawatan organik meningkat sebesar 37% di kalangan wanita berusia di bawah 35 tahun. Popularitas kosmetik organik juga semakin meningkat setelah beberapa selebriti seperti Alicia Keys dan Denise Van Outen beralih ke kosmetik organik, termasuk sering melakukan perawatan tubuh di Calmia, spa organik di London.

“Saya memilih kosmetik organik, karena selain aman bagi tubuh, kosmetik ini juga ramah lingkungan,” tutur Keys, dalam sebuah wawancara.

Namun, kini bukan hanya isinya yang harus “hijau”, kemasan produk kosmetik organik pun dituntut sama “hijau”-nya.

“Saya beralih menggunakan produk kecantikan organik dengan alasan kesehatan, juga karena ramah lingkungan,” ujar Chloe Jo Davis, seorang blogger yang fokus pada isu vegetarian dan lingkungan.

“Tapi, saya mempelajari bahwa produk kecantikan, tidak hanya harus memberikan khasiat secara maksimal, kemasannya pun harus ikut merepresentasikan apa yang ada di dalamnya, dan karena itu, untuk produk kecantikan organik, wajar jika kemasannya pun terbuat dari produk ramah lingkungan,” tutur Davis.

Pendapat Davis didukung 40% konsumen yang menggunakan produk alami untuk kosmetika mereka. Bagi pengguna kosmetik ini, pertanyaan mengenai siklus kehidupan tidak hanya berkisar pada elastisitas dan keremajaan kulit, juga apa yang terjadi pada kemasan kosmetik setelah habis terpakai, akankah hanya teronggok di tempat penampungan sampah atau menjadi produk baru melalui proses daur ulang.

Hasil survei yang dilakukan lembaga penelitian independen Mintel menyebutkan bahwa satu dari lima wanita berusia 25-34 tahun di Amerika menganggap kemasan ramah lingkungan sama pentingnya dengan kandungan organik yang ada di dalam kosmetik yang mereka gunakan.

Selain itu, studi tersebut menyatakan bahwa sebanyak 40% perempuan Amerika menjadikan kemasan ramah lingkungan sebagai salah satu alasan mereka membeli kosmetik tertentu. Industri kecantikan pun langsung merespons hal tersebut.

Selain menetapkan standar organik pada beragam produk kosmetik, menggunakan bahan-bahan alami, dan meminimalkan penggunaan senyawa kimia, teknik pengemasan pun lebih diperhatikan, termasuk dengan menggunakan material seperti bambu atau bahan-bahan daur ulang untuk kemasan kosmetik.

Sebut saja pelembap muka dari Aveda yang dikemas menggunakan tube dari material daur ulang atau sabun organik Pangea yang dibungkus menggunakan kertas dari serat organik.

“Kami menyadari konsumen sekarang lebih berhati-hati,bukan hanya dalam memilih kandungan dalam produk kosmetik, tapi juga kemasannya,” ujar John Delfausse, Chief Environmental Officer Estee Lauder.

“Untuk itu, kami mulai mengembangkan kemasan yang sustainableyang lebih ramah lingkungan, baik dari segi pembuatan maupun saat sudah tidak digunakan,” sebutnya.

Tidak hanya Estee Lauder, Body Shop pun memastikan produknya benar-benar memberikan benefit bukan hanya bagi konsumen, juga terhadap lingkungan. Botol White Musk Midnight Iris Eau de Toilette, produk terbaru Body Shop,mengandung material daur ulang.

Menurut Delfausse, kemasan kosmetik ramah lingkungan tidak selalu berarti menggunakan bahan-bahan daur ulang.

“Ada banyak hal yang bisa digali untuk memberikan manfaat bagi lingkungan hanya dari kemasan sebuah produk, mulai dari isu jejak karbon, efisiensi energi, atau bagaimana produk tersebut akan kembali didaur ulang setelah dibuang,” tuturnya, sembari menyebutkan kemasan kosmetik merupakan salah satu jenis sampah terbanyak di Amerika.

Delfausse juga menyebutkan, Estee Lauder telah menjalin kerja sama dengan beberapa agensi dan organisasi nirlaba yang fokus terhadap lingkungan.Salah satunya Forest Stewardship Council,yang memberi Estee Lauder sertifikasi untuk bahan kayu pada aplikator kosmetik, juga pensil make up.

Sementara, bulu pada kuas aplikator diklaim Estee Lauder terbuat dari serat alam yang dikombinasikan bersama resin dari produk daur ulang.

“Kami juga mengemas produk aplikator dalam kantung dari serat selulosa yang biodegradable,” papar Delfausse, yang juga menyebutkan Estee Lauder telah mengembangkan kemasan yang terbuat dari bahan daur ulang seperti bioplastik, bioresin, dan material organik layaknya serat selulosa yang mudah terurai di alam.

Tidak berhenti sampai di situ,perusahaan kosmetik pun melakukan daur ulang untuk kemasan produk yang sudah tidak terpakai.

“Kami meminta pada konsumen untuk mengembalikan kemasan yang sudah kosong melalui program daur ulang. Hal ini kami lakukan agar kemasan tidak memenuhi tempat penampungan sampah,” tutur Delfausse.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar