Selasa, 23 November 2010

Eksplorasi Kain Nusantara

Seperti menguras ceruk harta karun yang tak ada habis-habisnya. Demikian keindahan kain-kain Nusantara dieksplorasi habis-habisan selama seminggu dalam acara Jakarta Fashion Week, yang berakhir pekan lalu. Kain-kain tradisional itu tak pernah absen sepanjang peragaan. Mulai kain songket, ikat, tenun, hingga batik. Semuanya mendapat sentuhan dari para perancang Tanah Air dan menjadi sumber inspirasi busana siap pakai dengan sentuhan mode terkini.

Kain-kain itu dieksplorasi tak terbatas sebagai kain bawahan atau selendang pelengkap kebaya, seperti yang sudah umum. Namun kreativitas para perancang pun piawai menyajikan celana, legging, rok, rompi, jaket, gaun malam, dan masih banyak lagi.

Perancang Stephanus Hamy menyulap kain gendongan, yang memiliki tekstur yang kasar, kaku, dan keras, menjadi baju-baju yang chick dan girly. Padahal selama ini kain bermotif lurik itu lebih banyak dipakai para penjual jamu untuk menggendong keranjang bambu yang berisi botol-botol jamu keliling kampung maupun dibuat sebagai sorjan yang dipakai masyarakat adat.

Hamy--demikian sapaannya--mengeksplorasi aneka kain yang dijual murah di pasar-pasar tradisional menjadi rancangan modern. Kain lurik atau lurek dalam bahasa Jawa, yang artinya garis atau lajur dan berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Yogyakarta, di tangan Hamy menjadi karya modern dan penuh sentuhan kekinian. Misalnya atasan tanpa lengan maupun lengan pendek yang dipadu rok dan legging hitam.

Ada kalanya sentuhan tradisional sama sekali tak terlihat dengan membuat atasan berbentuk bujur sangkar, dengan memanfaatkan struktur lurik yang kaku jadi bagian pundak lurus ke samping. Atasan itu dipadukan dengan rok a-line yang modern sehingga satu-satunya sentuhan tradisional hanya pada kain lurik itu sendiri.

Motif lurik juga ditampilkan oleh Edward Hutabarat dalam peragaan "A Tribute to Kebaya" pada malam pembukaan. Perancang yang konsisten dengan pakem kebaya klasik itu merancang motif lurik pada kain katun menjadi kebaya yang dipadukan dengan celana palazzo dari kain gendongan Pekalongan dengan nuansa warna hijau dalam salah satu koleksinya.

Oscar Lawalata memakai kain tenun Nusa Tenggara Timur dan kain Dayak sebagai gaun koktail berbentuk kemben. Awalnya, Oscar mengakui bahwa kain tenun ini sangat tebal. Maka bersama Laura Miles, perancang tekstil asal Inggris mengembangkan teknik pembuatan kain yang lebih tipis. Oscar mengandalkan tekstur dalam koleksi tenunnya dan menyajikan warna fuschia, pink, dan pastel.

Tak kalah seru, perancang senior Ghea Panggabean menyajikan kain jumputan, songket, kain tenun bermotif Dayak, bahkan kain Gringsing Bali. Warna-warna cerah menyala pada motifnya dipadukan dengan bahan hitam polos untuk menciptakan kesan gaya bohemian yang menjadi ciri khasnya.

Anggota Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), Vicky Soetono, di bawah label Mario & Jo ingin menampilkan semangat muda yang energetik dengan menggunakan warna-warna dramatis, sentuhan bordir, dan batik dalam setiap rancangannya.

Sementara itu, Dee Ong tampil melalui labelnya, Batik 118. Kain ini dirancang menjadi gaun malam yang mempesona dengan potongan maxi. Dee Ong menggunakan batik berbahan sutra untuk menampilkan kesan mewah dalam kain tradisional. Bertajuk "The Power of Indonesian Batik", Dee Ong menampilkan 33 koleksi yang memakai batik Jawa, diberi sentuhan akhir motif serta gaya Sumatera dan Riau.

Tuti Cholid merancang tunik, baju kurung, dan kebaya melayu dalam sentuhan modern. Tenun Nusa Penida dan motif ikat cepuk dipadukan dengan potongan modern dalam koleksi "Exquisite Nature of Andalas". Adapun Widhi Budhimulia menggunakan tenun Makassar untuk merancang gaun ballroom.

Sjamsidar Isa, Ketua Dewan Pengurus Ikatan Perancang Mode Indonesia, mengatakan setelah batik mendapat tempat di masyarakat luas, dia memprediksi kain tenun dari berbagai daerah segera menjadi tren. "Perlu kerja sama yang baik antara perancang dan perajin, yang sekarang ini masih menjadi kendala," ujarnya. AQIDA SWAMURTI/AMANDRA MM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar